Awal Perjalanan

Awalnya ingin menuliskan kisah ini dengan segera, namun pada kenyataannya selalu ada saja alasan untuk menunda. Jadi teringat sebuah mutiara jawa dari teman saya ketika masih aktif di pecinta alam SMA dulu,

“Alas ki jembar, tapi luweh jembar le jenenge Alasan!”.

Namun akhirnya, setelah beberapa hari belakangan ada yang menanyakan mengenai cerita perjalanan eurotrip  saya beberapa waktu lalu, maka saya putuskan untuk segera menuliskannya. Keburu lupa dimakan usia, karena saya masih manusia.

Pada bagian pertama ini, saya mau cerita tentang mengapa. Sebab, kata nietzche,

” he who has a ‘why’ to live for, can bear almost any ‘how’.”

Meskipun travelling itu menyenangkan, tapi ada momen dimana rasa malas situ muncul. Kemudian beberapa rencana tidak dilaksanakan, kemudian kehilangan momen, kemudian menyesal sesenggukan di ujung kamar.

Semua bermula ketika training saya di Melun, France disetujui oleh Pak manajer. Kesempatan yang tidak selalu datang dua kali ini langsung saya follow up dengan pengajuan cuti sampai batas visa saya berakhir, sekitar 2 mingguan. Kemudian tibalah waktu untuk menentukan tujuan. Ada beberapa lokasi di sekitara eropa yang ingin sekali saya kunjungi selama ini. Beberapa diantaranya :

Yang pertama adalah islandia. Setelah nonton film secret of walter mitty, pengen banget ke Reykjavik lalu menyusuri jalanan sepi disana dengan sepeda sambil liat pemandangan yang oke punya.

Yang kedua adalah Switzerland, di jungfraujoch, ada salju yang masih jadi obsesi pribadi untuk disentuh dan dicumbu.

Yang ketiga adalah kumpulan fjord di Norway dan northern hemispherenya.

Yang keempat menyusuri kota-kota di eropa tengah

Yang kelima pengin menyusuri jejak Islam di spanyol dan menikmati Turki dengan segala kekuatan sejarahnya.

Sempat bingung memilih opsi-opsi tersebut. Ada banyak  keterbatasan waktu dan sumberdaya yang membuat kesemuanya tidak bisa diambil pada kesempatan ini.  Ketika harus memilih secara realistis, akhirnya opsi keempat dan kelima lah yang bisa diambil. Sisanya, disimpan sebagai motivasi suatu saat akan kembali ke sana, insya Allah.start

Advertisements

Pay it Forward, di kala kasih berbalas tidak selalu pada yang mengasihi

Sepanjang perjalanan dari Sorong menuju Jakarta via Makassar kemaren saya beruntung  bisa menikmati suguhan film “lawas” melalui kotak hiburan yang disediakan oleh pihak masakapai penerbangan. Film yang berjudul “Pay it Forward” (2000) itu seolah membuat saya kembali teringat pada beberapa kejadian yang saya alami pada perjalanan saya seusai training di Melun beberapa waktu yang lalu.

Ada beberapa kejadian yang sebenarnya sangat berkesan pada perjalanan selepas training kemaren. Salah satu diantaranya adalah bertemu dengan orang-orang yang belum pernah kenal sebelumnya, tapi mau banyak memberikan pertolongan seolah sebelumnya sudah saling kenal, berinteraksi, dan saling memberi. Seperti mas Yudha di Paris yang mau menyediakan apartemennya buat koper besar saya yang saya tinggal selama dua mingguan, atau seperti Firdaus di Istanbul yang mengguide, meminjami sim-card turki, dan memfasilitasi perjalanan saya selama di Istanbul.

Ada juga orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya yang mana sampai sekarang jarang sekali saya memberikan sesuatu buat mereka namun mereka memberikan bantuan yang sangat banyak. Seperti Fauzi di Ankara, Ajid-Hadiyan di Dresden, dan mas Hifni di Tarragona. Mereka semua bahkan menyediakan apartemennya sebagai tempat singgah saya, tempat saya mandi dan laundry bahkan sampai mentraktir dan menjamu berbagai hidangan.

Pernyataan menarik keluar dari mas Yudha ketika saya mencoba mencari tau motif perbuatannya. Bahwa dulu ternyata dia juga banyak menerima bantuan dari teman-teman yang lain, termasuk dari Sally, teman yang mengenalkan saya pada mas Yudha. Sebuah nilai yang pada akhirnya sangat berkaitan dengan film yang barusan saya tonton tersebut.

Dalam film itu, konsep “pay it forward” dimunculkan oleh Trevor, seorang siswa dalam sebuah kelas sosial. Menurut Trevor, dunia akan jadi lebih baik, jika setiap orang saling membantu. Idenya, satu orang memberikan bantuan pada tiga orang, namun ketiganya tak harus membalas kebaikannya tersebut langsung padanya. Yang harus mereka lakukan adalah memberikan bantuan berikutnya kepada tiga orang yang lain. Dan begitu seterusnya. Tentunya dengan keyakinan bahwasanya dunia yang lebih baik itu akan memberikan keuntungan bagi dirinya nantinya.

Dalam ajaran agama saya, saya jadi teringat sebuah hadis Riwayat Muslim,

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat…” (Hadis Riwayat Muslim).

Jadi mungkin intinya percaya saja, Tuhan pasti membalas amal baik kita, namun kadang Tuhan memberikan balasan kasih tidak melalui orang yang sering kita kasihi.

Buat semuanya yang sudah sering saya repoti dan sering membantu saya, maaf kalau saya belum bisa membalasnya langsung. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang jauh lebih baik.

Ngisi Pertamax

“Sekeren-kerennya kapal, sebesar apapun layar atau mesinnya, setangguh apapun abk nya tetaplah juga butuh tempat berlabuh…”

Rutinitas hidup dan kehidupan merupakan suatu fungsi yang memetakan produktivitas hidup terhadap waktu. Seiring berjalannya waktu, ada titik-titik tertentu dimana apa-apa yang dilakukan tidak memberikan dampak produktivitas terhadap lahir maupun batin. Semakin banyak yang dilakukan, semakin banyak energi yang semakin terbuang tanpa hasil yang signifikan. Disaat itulah kemudian kapal harus dilabuhkan. Diisi perbekalan, amunisi dan disegarkan kembali.

 Minggu ketiga di bulan November, mengarungi jeram-jeram kehidupan kali Cicatih merupakan salah satu pelabuhan untuk beberapa hal tersebut. Terima kasih diucapkan kepada kawan-kawan yang rela berkorban waktu untuk mengurusi kegiatan ini. Terima kasih bapak Aris yang telah mengkoordinatori acara ini,Pak Irfan dan Pak Adib yang telah menyediakan tumpangan pulang pergi, serta teman-teman(Tulus, Ridwan, Fajri, Taufiq, Iqbal, Hugo, Apri, dan Yohan) yang juga memberikan kontribusinya masing-masing.

Image

Stranger by The Day

“Snow is fallingfrom the sky – in the middle of July

Sun was shining in my eyes again last night 

Alarm goes off without a sound – the silence is so loud 

Something isn’t right”

(Shades Apart)

 

Dalam pranata mangsanya orang Jawa, Desember seringkali disebut-sebut sebagai geDE gedene SuMBER. Masa masa itu adalah masa dimana rerumputan kembali berwarna hijau, udara terasa lebih basah, dan sang mentari lebih sering bersembunyi dibalik awan.

 Namun tidak untuk malam sampai sore itu.

 Bermula dari sebuah kos-kosan yang terletak di daerah Gubeng Kertajaya, diawali dengan sarapan di “warung pecel”, perjalanan berlanjut dengan menggunakan sebuah elf sewaan untuk mengantarkan kita menuju pelataran Gunung Ijen dan Taman Nasional Baluran.

 Sebuah hari yang “lain” dari hari-hari sebelumnya. Sebuah hari dimana mentari perkasa dia atas awan yang menyembunyikannya. Sebuah hari dimana birunya langit menjadi teman baik untuk berperjalanan.

 Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Semoga tulisan pendek ini bisa menjadi penguat silaturahim diantara kita, sampai jumpa di lain waktu dan di lain kesempatan.

 

Image

//

Borderless World, Antara Mimpi dan Angan-Angan

Internet dan dunia cyber memiliki segudang informasi untuk membuat mimpi perubahan. Banyak orang berjodoh dengan istri atau suaminya karena internet. Banyak pula orang yang menjadi kaya dan menemukan karirnya juga karena internet. Tak sedikit pula yang mendapatkan jenjang pendidikan ataupun pencerahan batin melalui internet.

Namun, batas antara mimpi dan angan-angan itu nampaknya memang tipis. Terlalu sering melihat dunia luar kadang membuat manusia melupakan apa-apa yang ada di sekitarnya. Lupa dengan rejeki yang diberikan kepadanya, lupa akan teman teman disekitarnya, atau bahkan keluarga yang dimilikinya sendiri. Susah memang.

Kalo sudah terdisorientasi  seperti ini, ada baiknya jendela luar itu ditutup sementara waktu. Sudah saatnya memberi ruang yang lebih pada hati untuk mensyukuri apa-apa yang telah diberikan.

//

Ruang Tertutup

 

Dalam beberapa hal, kesendirian itu nikmat. Apa lagi kalo bisa mendapatkan me-time. Waktu untuk memanjakan diri dengan hobi maupun passion masing-masing.

Tapi banyak kasus yang membuat kesendirian itu menjadi siksaan. Dan menurut saya, sendiri di ruang tertutup dengan mood jelek itu menjadi salah satu siksaan terberat dalam “menikmati” kesendirian.  Pikiran terkungkung seperti  terperangkap dalam masa lalu yang pahit dan terus berlarut larut.

Mungkin itu menjadi salah satu alasan kenapa tempat penyiksaan manusia itu baik penjara maupun yang lainnya adalah ruang tertutup sempit yang gelap….

 

 

//

Lelaki dan belanjaannya

Menurut hemat saya, status seorang lelaki itu bisa dilihat dari apa-apa yang dia beli di supermarket dan atau pasar.

Lihatlah onggokan belanjaan ini.

Image

Menurut saya bisa langsung ditebak bahwa lelaki ini masih single dan belum mendapat sentuhan warna-warni wanita di rumahnya.. bwahahahaha, miris amat sih.

Tanya kenapa? Sudah jelas, belanjaannya hambar banget (mungkin kayak hidupnya, bwahahahaha), nggak ada bumbu-bumbu aneh-aneh. Standar banget. Seplastik roti gandum, satu set mie instan komplit dengan pelengkapnya serta buah. :))))))))..

Dan fakta pahit yang harus diketahui itu adalah belanjaan saya hari ini tanggal 24 Juni 2013 untuk sekedar menyambung hidup 2-3 hari kedepan sebelum pulkam. Semoga belanjaan saya segera menjadi warna-warni dan tidak lagi hambar ya :)…. Aamiin…