Archive for the ‘ Tulisanku ’ Category

Tidakkah Kita juga Gila?

“Sebuah kegilaan adalah apabila kita melakukan sesuatu yang sama persis dengan mengharapkan hasil yang lebih baik(hasil yang berbeda)”

Sepenggelan kalimat tersebut telah kembali menyadarkan saya. Ternyata selama ini saya telah banyak melakukan suatu kegilaan yang tanpa sadari saya lakukan. Berharap senantiasa akan hasil yang jauh lebih baik tanpa mengintstropeksi dan mengevaluasi apa-apa yang telah dilakukan.

Berkali-kali saya selalu ingin menjadi orang yang lebih baik tanpa melakukan sebuah perubahan yang berarti ke arah hal tersebut dengan tentunya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik.

Just Saying, “Better man”, tak akan merubah apapun tanpa berusaha melakukan perubahan..

Semoga mulai ini bisa berbenah untuk tidak melakukan kegilaan serupa.

”Dan Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mau merubah keadaan dirinya sendiri terlebih dahulu”

Advertisements

Seberapa Besar-kah PD mu?

Hari itu Senin 21 Juli 2008, saya mendapatkan ilmu dan paradigma baru tentang Pe-De. Saat itu sedang ada training pertama untuk Pemandu INFANTRI(Inisiasi Fakultas Teknik untuk Negri) , MOS-nya anak teknik UGM dan kebetulan saat itu Mas Fatan Funtastic sedikit membeberkan rahasia tentang tingkatan-tingkatan kepedean seseorang. Mau tau? Ini dia….

Kita mulai dari yang paling cupu dulu aja ya…..

Yang paling cupu tu adalah kita Pe-De karena kita punya sesuatu hal yang kita anggap berharga. Hohohoho…. Ini adalah Pe-de yang paling mudah. Contohnya adalah hp kita model terbaru, trus kita jadi PD, laptop kita bagus trus jadi PD, kita punya kendaraan yang juga Ok punya, n lalu kita juga jadi PD. Bagi yang merasa masih minder, mungkin bisa dimulai dari tingkatan Pede yang paling cupu ini hehehe.. Tapi kalo kita nurutin nih PD bisa-bisa berat diongkos lho! Suerrrr.

Tingkatan PD setelah yang paling cupu atau dengan kata lain tingkatan PD yang nomor dua adalah PD kalo orang lain g punya sesuatu yang kita punyai. Contohnya seperti ini, maaf agak ekstrim, kita punya dua buah tangan, sementara mungkin ada orag lain yang kurang seberuntung kita. Jahat ya, PD karena seperti itu, namanya juga masih PD dalam tingkatan yang rendah, jadi ya maklumlah….

PD tingkat yag ketiga mirip dengan PD yang sebelumnya yaitu, PD kalo kita punya suatu kelebihan kemampuan dalam suatu bidang yang mungkin orang lain g punya. Umpamanya seperti ini, A kuliah di UGM, sedang temannya gagal dalam ikut UM-UGM, dan dia pun lantas PD. Intinya, ketiga PD tingkatan dasar ini bisa dikatakan PD yang cukup “jahat”.

PD pada tingkatan ke-4 ini merupakan PD yang sudah lumayan beradab, yaitu kita PD karena kita memiliki kelebihan dan juga kekurangan. PD ini merupakan penyadaran akan diri bahwa tiap manusia itu pasti puya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, kenapa harus minder?…

Nah, menurut mas Fatan lagi, tingkatan PD yang paling tinggi adalah PD karena kita telah benar-benar memahami visi & misi hidup kita. Ibaratnya no matter what they say, there I am. Artinya tiap tindakan kita walaupun itu aneh dan cupu di mata orang lain asalkan tidak melanggar aturankita harus tetap PD, kalau itu merupakan mozaik yang harus kita dapatkan dan jalankan untuk meraih kesuksesan hidup. Sekian….

Jikalau Harus Memilih…

“Life is choice”

Hidup itu pilihan, ya begitulah hidup. Kalau kita tidak mau memilih ya tidak usah hidup saja. Bahkan untuk tetap bertahan untuk menjalani hidup saja juga merupakan sebuah pilihan. Ya kan?

Memilih itu untuk banyak hal, urusan jodoh, pekerjaan, studi, bahkan untuk makan esuk hari saja juga merupakan pilihan. Dan tentunya bagi orang-orang yang cerdas dan berakal, pastilah mereka akan memilih pilihan yang mana paling baik, bahkan apabila dihadapkan akan dua pilihan yang sama-sama kurang baik, dia pasti memilih salah satu yang mana tingkat kejelekannya paling rendah.

Uraian di atas bukannya tanpa maksud, sengaja saya mengutarakan hal tersebut untuk suatu alasan yang sangat kuat. Maaf bila pembicaraan saya sesudah ini mungkin bagi beberapa kalangan agak tabu, sok tahu, ato bagaimanalah terserah, saya kembalikan pada temen-temen sekalian yang membaca. Sekali lagi bahwa ini adalah pendapat saya pribadi, orang yang sedang belajar, sehingga kalau banyak yang salah mohon untuk diluruskan dan dibenarkan. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya tentang bagaimana jikalau harus memilih.

Mungkin masih tersisa 6 bulan lagi sebelum senja terakhir 2008 sirna. Tapi sungguh, ini bukanlah waktu yang singkat untuk menentukan sebuah perjalanan hidup dari suatu bangsa. Segala sesuatunya harus diperhatikan dan dipertimbangkan dengan seksama. Mungkin, beberapa dari teman-teman mulai sadar kemana arah pembicaraan kita mengarah. Ya Pemilu 2009, itulah yang ingin saya angkat.

Sebenarnya saya sendiri kurang setuju dengan metode pemilihan pemimpin bangsa ini, kenapa tidak? Karena dalam sistem yang selama ini kita anut, apabila negri ini terdiri dari 10 kyai dan 11 maling, maka selalu saja para maling yang benar. Suara terbanyak, ya itulah letak ketidak setujuan saya. Selain dari permasalahan tersebut, pada system pemilihan ini, satu suara dari seorang professor yang sudah pakar dianggap sama degan orang yang bahkan dia tidak bersekolah sama sekali. Betapa mirisnya hal tersebut, tapi itulah kenyataannya.

Kenyataannya memang sangat bagus apabila pemilihan pemimpin bangsa ini dipilih dengan musyawarah mufakat. Tapi Urgensi kepentingan pribadi para wakil di negri ini masih sangat tinggi sekali sehingga cara yang amat bagus ini ternyata tak bisa berjalan dengan baik. Mau tidak mau untuk saat ini kita “terpaksa” mengikut system yang sudah ada sekarang.

Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, yang ingin saya angkat di sini adalah bagaimana atau apa yang harus kita lakukan apabila kita harus memilih. Biasanya orang memilih untuk sesuatu yang dia sukai, seperti untuk urusan jodoh misalnya, pastilah seseorang tersebut memilih jodoh karena dia menyukai kekasihnya tersebut, tentunya terlepas dari atas alasan apa dia mencintai jodohnya tersebut yang tentunya tidak perlu saya jelaskan di sini.

Sekarang permasalahannya adalah apabila ternyata kita dihadapkan untuk memilih pada opsi yang ternyata kita tidak menyukainya atau lebih halusnya kita kurang menyukai opsi-opsi yang ada. Kejadian inilah yang sangat mungkin terjadi pada Pemilu besuk. Bisa jadi kita merasa bahwa partai-partai(terlepas kita setuju atau tidak adanya partai) yang ada sekarang tidak ada satupun yang match dengan pendapat atau pandangan kita. Lantas kemudian, apakah kita harus tetap memilih?

Menurut saya ya! Kenapa? Karena kita masih hidup. Life is choice..

Tapi ingat, sebenarnya tidak memilih satupun partai sebenarnya juga merupakan pilihan. Meskipun begitu, apakah hal tersebut baik? Urusan baik atau tidak saya serahkan saja pada pembaca sekalian. Yang jelas dengan kita tidak memilih, sama saja kita pasrah pada keadaan, karena apa? Sudah barang tentu ada orang lain yang memilih. Dan apabila kita menginginkan perubahan yang lebih baik dengan jalan yang tidak memilih dalam pemilu saya rasa itu omong kosong untuk saat ini. Dengan tidak memilih, ibaratnya kita sudah memasrahkan nasib negri ini pada orang lain yang memilih. Ya tidak? Mending kalo ternyata pilihan orang-orang tersebut semuanya baik. Pertanyaannya, bagaimana jika tidak? Tentunya kita turut memberi andil dalam bobokroknya dan tidak maju-majunya negeri ini. Apa bila kenyataannya semua opsi pilihan buruk semua, toh kita bisa memilih yang paling tidak buruk, tapi saya yakin, pasti ada juga yang baik. Dan semoga Pemilu besuk tidak menjadi ajang perpecahan diantara kita.

Mari kita bangkit, karena Harapan itu masih ada….

Dan pohon pun jugalah tak berdaya

Sebelum menelanjangi fakta di atas, tahukah sebenarnya kawanku, Bagaimana bisa terjadi apa yang disebut dengan Green House Effect? Mungkin kebanyakan dari kita hanya mengetahui sebatas bahwa Green House Effect dapat mengakibatkan bencana alam yang sangat dahsyat (Global Warming)dan semua itu diakibatkan karena emisi gas rumah kaca (CO2).

Tapi apakah kau tahu kawan, mekanisme apa yang sebenarnya yang terjadi? And the story begins….

The Earths atmosphere contains several different gases which act like a blanket, keeping the Earth warm. The most important of these gases is carbon dioxide.

Carbon dioxide is transparent to shortwave radiation from the sun. The sunlight passes freely thorough the atmosphere, and reaches the ground. The ground is warmed by the radiation, and emits longer wavelength, infrared radiation. Carbon Dioxide doesn’t left all of this infrared radiation pass through. Much of it is kept in the atmosphere, making the atmosphere warmer.1)

Seperti itulah kejadiannya, dan itulah juga kenapa mekanisme penyebab Global Warming tersebut sering disebut dengan efek rumah kaca, suatu proses untuk menjaga rumah kaca yang tidak diberi pemanas khusus tapi tetap hangat karena terperangkapnya panas dalam suatu “kotak” tertentu. Dalam hal tersebut “kotak” tersebut dibuat oleh Karbon Dioksida.

Sekarang permasalahannya adalah bagaimana cara kita untuk mengurangi emisi CO2 yang ada di atmosfer ini. Mungkin ada beberapa alternatif yang bisa kita lakukan. Beberapa kalangan menyatakan bahwa jumlah CO2 yang ada di udara ini dapat dipangkas jumlahnya dengan melakukan penghijauan sebanyak mungkin. Dengan asumsi bahwa tumbuhan menyerap CO2 dan menghasilkan O2, maka salah satu cara ini dipercaya cukup kuat untuk mengurangi CO2 dan mengatasi global warming.

Does it work?

Deforestation has also been blamed for increasing the amount of carbon dioxide in the air.It has been argued that , by cutting down rainforests, there are fewer trees ro photosynthesise and remove Carbone Dioxide from the air. However, this is not straightforward. A mature forest tree gives out almost as much Carbon dioxide from respiration as it takes in photosynthesise!2)

Fakta menunjukkan bahwa dengan melakukan reboisasi kita memang tidak bisa memangkas jumlah CO2 yang ada di udara, karena jumlah yang diambil untuk fotosintesis hampir sama dengan yang dikeluarkan ketika tumbuhan tersebut berespirasi. Tapi tunggu dulu, jangan lantas karena fakta tersebut kita enggan untuk melakukan reboisasi. Paling tidak reboisasi bisa mengurangi dampak bencana alam yang lain, ex: banjir, tanah longsor, dll. Jadi mari menanam!(ending yang mekso ya???)

1)Jones, Mary and Jones, Geoff, IGCSE Biology,Cambridge : Cambridge University Press (2002)

)Jones, Mary and Jones, Geoff, IGCSE Biology,Cambridge : Cambridge University Press (2002)

Sebuah Paradoks tentang Kepemudaan

Sebuah Paradoks tentang Kepemudaan

Beberapa waktu yang lalu, ada suatu keperluan di tempat seorang teman yang mengharuskan saya melakukan perjalanan membelah Jogja. Maklum, tempat tinggal saya di daerah Maguoharjo sedangkan tempat teman saya tersebut berada di daerah Pingit.

Siang itu, cuaca Kota Pendidikan itu sedang sangat tidak bersahabat bagi para pengguna sepeda motor. Sang mentari sedang beringas memancarkan teriknya, sementara awan-awan serasa enggan untuk menghias satu bagian pun dari langit. Suasana diperparah dengan traffic lalu lintas yang begitu padat. Belum lagi, hiasan warna ’kabut’ hitam dan putih dari kendaraan-kendaraan di tempat itu turut mewarnai teriknya siang itu. Continue reading