Archive for the ‘ Jejak langkah ’ Category

Sekelabat Jilbab dan Hangatnya Ukhuwah Islamiyah di bawah langit Tuscany

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Agar mereka dikenal. Petikan terakhir kalimat itu benar benar saya rasakan maknanya beberapa waktu lalu ketika menjalani perjalanan bersama dua orang teman SMA saya yang  sedang menempuh pendidikannya di benua biru. Mereka adalah Kias Ayu Damara (Damara) di Upsala, Swedia dan Aulia Sukma Hutama (Tomi) di Groningen, Belanda.

Perjalanan ini berawal dari hasil obrolan ngalor ngidul via jejaring social antara saya, Damara, dan Tomi. Kala itu, saya mengabari Damara bahwasanya training saya sebagai seorang kuli sumur di Melun, , Prancis  berakhir di awal Juni. Mendengar kabar itu, Damara mengajak saya dan Tomi untuk reuni di suatu tempat di awal Juni. Selain teman SMA, kebetulan kami semua pernah tergabung dalam satu kelompok dalam diklat kepencintaalaman di Deles Indah, lereng Gunung Merapi waktu kelas satu SMA. Jadilah reuni ini kami jadikan ajang mengenang kebodohan kebodohan masa lalu sekaligus melepas penat pasca training dan studi.

Pada akhirnya diputuskanlah kawasan Tuscany, Italia sebagai tempat reuni kami. Kami berjanji bertemu di bandara Aeroporto de Pisa pada hari Sabtu, 9 Juni 2012. Menggunakan maskapai murah benua biru, Ryanair, kami meluncur dari tempat kami masing-masing menuju bandara Aero porto de Pisa. Sekitar pukul 20.00 di sore hari, kami pun bertemu dan begitulah kisah ini berawal.

Keesokan harinya, kami mengawali reuni kami menuju menara miring Pisa dan dilanjutkan ke San Quirico D’Orcia, sebuah desa kecil di kawasan Tuscany. Karena desanya terpencil, transportasi di sana agak sedikit sulit. Dari sekian itinerary yang dibuat oleh Damara, hanya kawasan inilah yang b elum jelas bagaimana mencapainya. Kami harus mencapai stasiun Buonconvento  terlebih dahulu dari stasiun Pisa Centrale lalu kemudian mencari bus atau angkutan pedesaan setempat.

Continue reading

Advertisements

Refleksi Ujian Akhir Semester , karena ujian dari Tuhan selalu ujian mendadak

Can you help me please! Please start from the beginning.” (As always, Pavlo Salazar)

Pablo adalah nama teman saya di kelas DST TCP course untuk first entry school saya di schlumberger. Ada beberapa fakta menarik tentang teman saya ini. Satu yang menjadi ciri khasnya dan mungkin akan terus jadi ciri khasnya adalah kata-katanya ketika dirinya merasa hilang dari suatu perbincangan, “Please start from the beginning”.

Pada awalnya, mungkin sulit bagi orang lain atau kita sendiri untuk kemudian memulai dari awal lagi. Entah itu karena merasa malas, repot, yah dan yang pasti mengulang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, that’s the only thing we should do after feeling lost.

Continue reading

Sorbonne

Alhamdulillah, kesampaian juga hari ini. Setelah dulu kkn di negri laskar pelangi (Bangka) saya berhasil meneruskannya sampai ke “Sorbonne”. Cuma nampang di depan Universitasnya sih.  Tapi, yang penting, cita-cita menyusul Arai ke Sorbonne kesampaian.

Sebenarnya, pengen sekali saya bisa masuk mampir foto-foto dan lihat-lihat di dalam. Apalah daya kenyataan berkata lain. Setidaknya berbagai cara sudah saya upayakan. Mulai dari mempersiapkan alasan kalau ketemu satpam (terinspirasi dari http://wahyuningrat.multiply.com/journal/item/54 ), sampai berusaha mengontak temennya Aish (kuliah di Paris V)yang kuliah di “Sorbonne” juga (seingat saya kuliah di Paris I).

Mencari altar suci ini cukup rumit, karena saya sendiri sampai sekarang belum tau universitas Sorbonne mana yang dimaksud. Menurut Wikipedia, universitas Sorbonne itu udah pecah jadi banyak. Dari Paris I sampai Paris sekian. Menurut http://wahyuningrat.multiply.com/journal/item/54 juga, universitas Sorbonne tempat altar suci berada itu di Paris IV dan Paris V. Ingin sebenarnya menelusuri semua pecahan Universitas Sorbonne tersebut. Namun, karena keterbatasan akses saya akhirnya menentukan untuk menuju Paris I,IV, dan V. Continue reading

Seutas kisah di “kota” utara Jawa

The story begins,, akhirnya lolos juga dari seleksi surveyor KP PLN 2008,, dan diterimalah saya di Semarang,, yupz sebuah kota di utara Jawa. Ada beberapa alasan kenapa aku memilih kota ini, mulai dari pribadi(“obsesi masa depan^^”) sampai ya memang ktrimanya emang ya disitu.

Nah disinilah dimulai pergumulan hebat untuk menuntaskan misi tersebut,, survey, masa depan, dan jalan-jalan. Sesuai dengan wawancara dengan seorang dosen waktu seleksi kemaren yang menanyakan tentang tempat tinggal saya disana, saya pun akan numpang di sebuah pesantren bernama pesantren Rhoudhotul Qur’an di daerah kauman Glondong di Semarang Tengah. Sebuah pesantren yang menurut cerita ibu saya milik seorang pengusaha yang mana beliau adalah adiknya teman ibu saya di kampus.

Dan berangkatlah saya ke Semarang pada hari Selasa Sore (rencananya bis ashar) tapi karena suatu masalah tertentu saya dan seorang rekan saya baru bisa berangkat menjelang magrib. Walhasil perjalanan semalaman pun terasa cukup horror, terutama di sepanjang perjalanan begitu memasuki secang. Jalan gelap dan sepi,. Walau begitu, Alhamdulillah, sekitar pukul 22.00 sampailah saya di semarang.

Ternyata jam segitu Semarang masih ramai, dan kotanya pun tampak keren disinari cahaya-cahaya lampu jalanan, sebuah pemandangan yang menakjubkan mata saya dikala itu. Sebuah awal kesan yang menarik tentang Semarang. Begitulah, akhirnya begitu sampai di Semarang saya pun berpisah dengan teman saya tersebut karena DAOP yang berbeda. Tibalah saya sunyi sendiri kesepian di kota ini. Segera saja saya pacu shogun biru saya menuju pesantren yang saya maksud. Sekitar 20 menitan kemudian akhirnya pesantren tsb saya temukan dengan cukup mudah.

Sampai di sana, segera saya hubungi nomor yang diberikan oleh ibu saya. Tuuut….tuuuuut….tuuuut, sekilas agak lama, jadi tut..tut..tut..tut… weleh2 kok gak diangkat2 yo, akhirnya saya pun jadi merasa bersalah, jangan- jangan pemilik pesantrennya sudah tidur. Dasar kebangetennya saya,,, masa jam segini telfon pak kyai. Ya sudahlah, akhirnya saya langsung mengurungkan niat menghubungi pak kiainya. Ziiiiing.. saya bingung, mau tidur dimana ya? Akhirnya secara insting saya langsung mencari masjid. Dan Alhamdulillah di ujung jalan tempat saya berdiri ini Nampak sebuah masjid berdiri dengan agungnya. Subhanallah… Sayang seribu sayang setelah saya dekati msjid tersebut sudah terkunci rapat tanpa meninggalkan secuil celah bagi saya untuk ikut menikmati kehangatannya. Ditambah lagi ada plang bertuliskan “ dilarang Tidur di Masjid”. Wah tambah bingung nih. To be continued…..

Terima Kasih Wahai Sahabat…

Drrrrt…. Drrrt, seperti itulah bunyi getaran nokia 6610 ku dipagi itu yang menandakan ada sms masuk. Setelah kubuka, ternyata dari seorang sahabat yang kurang lebih isinya,

“ Tiap orang berbeda ujiannya. Andai kita melihatnya sebagai kesusahan, maka itulah yang akan terjadi. Tapi jika kita melihatnya sebagai tangga kemuliaan, maka tersenyumlah..”

Simple sih, tapi mengena sekali buatku kala itu yang entah kenapa lagi terkena sindrom mengeluh. Ya,, terus-terusan mengeluh karena agenda menumpuk lah, janji yang tidak ditepatilah, tugas-tugaslah, dan lain sebagainya.

Ya.. pada akhirnya aku kembali tersadar bahwa tiada kemuliaan tanpa perjuangan. La izzata illa bil jihad. Itulah yang membedakan sebonglah intan dan seonggok arang. Mereka itu sama-sama dari karbon, tapi sangat berbeda, yang satu mulia dan sangat berharga, yang satunya hitam, biasa saja dan tak begitu berharga. Penempaan terhadap merekalah yang berbeda. Intan ditempa dengan suhu yang sedemikian ekstrim, dan tidak demikian bagi arang, arang hanya ditempa sekadarnya.

Yah paling tidak, sebuah pesan tersebut kembali mengingatkanku bahwa untuk menuju kemuliaan itu butuh perjuangan sebagaimana karbon harus ditempa sedemikian rupa untuk menjadi sebongkah intan.

Sekedar ingin mengucap, terima kasih sahabatku, semoga Allah membalasmu dengan balasan yang jauh lebih baik.

Mudik : Menghapus atau menambah “Dosa”

Alhamdulillah, musim lebaran kali ini saya masih diberi kesempatan untuk mudik bersilaturahim dengan saudara-saudara, kakek-nenek, dan kerabat yang lain di daerah Bekasi. Bersyukur sekali masih diberikan kesehatan, kemampuan, dan kesanggupan untuk menjalin dan menguatkan hubungan di antara kami. Mudik kali ini cukup menyenangkan, meskipun sempat merasakan “mandi sauna” di tengah jalan. Maklum, dengan kondisi kendaraan “secukupnya” saya dan sekeluarga yang beranggotakan 6 orang tumplek jadi 1 di dalam mobil carry ijo dengan sirkulasi udara paling “modern”, AC, Angin Cendela.

Mudik kali ini serasa sedikit istimewa karena kami mencoba mengambil rute yang berbeda antara berangkat dan pulangnya,, yah maksudnya sekalian jalan-jalan gitu.. Berangkat jam 3.30 AM dari Jogja, kami melesat melewati Purworejo, Kebumen, Gombong, Wangon lalu naek ke utara melewati Bumiayu, Brebes akhirnya sampe Losari. Dan dari Losari perjalanan dilanjutkan melalui Pamanukan, Sukamandi, Cikampek, lalu sampailah di Bekasi Barat. Mulai dari Brebes ini mandi sauna mulai dirasakan, macet, panas, debu, pasar, pedagang asongan, semua bercampur jadi satu. Umpatan-umpatan dari berbagai pihak pun menambah bumbu-bumbu perjalanan ketika ada saja pengendara yang “usil” melakukan aksi “gila” atau salah satu petugas keamanan melakukan kecerobohan. Walau begitu, banyak juga tampang pasrah dan sabar yang menanti dengan tertib kemacetan tanpa membuat suatu manuver “gila” untuk membebaskan diri. Ya, suasana khas mudik tersebut benar kental terasa sepanjang perjalanan. Akhirnya saya dan keluarga tiba di tujuan jam 19.30 an.

Pulang ke Jogja, kami berangkat dari Bekasi sehabis subuh, mengambil rute Cikampek, Indramayu, Cirebon, Batang, Pekalongan, Temanggung, Magelang, lalu Jogja. Perjalanan pulang lebih menyenangkan, lancar, dihiasi hawa khas pegunungan di utara pulau Jawa. Dan tibalah kami di Jogja sekitar jam 6 malam.

Ya,,, begitulah mudik, sebuah agenda tahunan, sebuah budaya khas Indonesia yang menghadirkan suatu romantika tersendiri bagi pelakunya maupun orang-orang yang tidak secara langsung terlibat di dalamnya. Entah kapan dimulai,entah siapa yang meng-inisiasi, entah bagaimana memulainya, tapi yang jelas mudik sekarang ini telah menjadi agenda rutin yang sayang untuk dilewatkan begitu saja, meskipun mudiknya hanya beberapa meter atau beberapa kilometer dari rumah kita.^-^.

Beberapa orang menduga budaya ini bisa sangat kental karena kekerabatan yang cukup kuat antara pendahulu kita dan budaya silaturahim yang baik yang mana merupakan tuntunan dari agama Islam, agama mayoritas penduduk di Indonesia, yang mana diyakini dengan silaturahim dapat memperlancar rizki dan memanjangkan usia. Budaya mudik ini juga muncul mengikuti Idul Fitri yang diidentikkan dengan kembali suci sesuai fitrah yang kemudian diartikan oleh orang jaman sekarang dengan saling memaafkan sehingga terhapus dosa antar sesama manusia setelah sebulan mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada ilahi, setelah hubungan vertikal dilanjutkan horizontalnya, mungkin maksudnya seperti itu. Pada akhirrnya, poin yang paling belakang ini yang kemudian menjadi urgensi yang paling dikejar oleh para pemudik. Saling meminta dan memberi maaf kepada sanak saudara sekaligus melepas kangen dengan menghapus “dosa” akan sesama. Ibaratnya, wisata, silaturahim sekalian menghapuskan dosa dan kesalahan antar sesama umat manusia. Wah indahnya…

Tapi kemudian,, apakah iya begitu? Barangkali sedikit dari kita yang menyadari hal berikut. Seringkali kita melupakan hal-hal yang kita anggap ”sepele” sepanjang perjalanan yang sebenarnya bisa menjadi bumerang bagi kita dan menurut saya menodai tujuan awal mudik. Kita inginnya kan saling memaafkan dengan sanak saudara untuk menghapus dosa-dosa kita, tapi tidakkah kita tahu berapa dosa yang kita buat di sepanjang perjalanan? Berapa jumlah orang telah kita umpati? Berapa jumlah antrian telah kita seroboti?Berapa orang penjual jalanan kita maki? Dan berapa puluh orang lagi yang telah kita sakiti? Atau bahkan mungkin, berapa orang yang telah kita celakai hidupnya? Hoi, tidakkah kita menyadari ini? Meminta maaf kepada saudara kemungkinan besar bisa. Tapi, meminta maaf kepada orang yang tidak kita kenal,, apakah kita berpikir sampai segitu? Sekali lagi.. WOIWOI2! Saya bukannya ingin melarang orang untuk mudik. Saya hanya ingin menyampaikan bahwasanya, mudiklah dengan santun, jangan karena kita ingin cepat sampai di tujuan kita menyakiti dan mendzalimi atau bahkan membunuh saudara kita sendiri. Keinginan untuk cepat sampai di tujuan tidak salah, tetapi mendzalimi orang lainnyalah yang salah. Jangan sampai kita malah menambah dosa ketika kita mudik. Semoga bisa jadi masukan bagi kita bersama.^^

Sebuah Kisah yang Telah Lalu, Infantri 2008

Minggu,24 Agustus 2008, 04.30 WIB, secara reflek, aku terbangun dari tidurku. Ada sesuatu yang aneh, yang mengganjal dan tidak biasa. Sejenak ku berpikir, “oh ya, Infantri 2008 telah usai kemaren malam,”. Ya begitulah, pagi itu aku tidak lagi harus bangun dan mandi pagi sekali untuk datang sebelum jam 5 pagi di Fakultas Teknik UGM. Inisiasi Fakultas Teknik Untuk Negeri 2008 sudah usai.

Meskipun pada awalnya aku berencana untuk tidak terlalu “masuk” dalam acara ini, pada akhirnya, tetap saja ada sesuatu yang berat untuk ditinggalkan seusai acara tersebut. Tentunya sekumpulan kisah dan kenangan, dan mungkin sebuah awal untuk menyusun kisah hidup di masa depan.

Ya… sebenarnya keterlibatanku di Infantri 2008 sudah mulai sejak sekitar 1 bulan yang lalu. Ada banyak ilmu yang kudapat di sini, mulai dari training yang diberikan, sampai pengalaman empiris melalui interaksi di lapangan dengan sesama pemandu maupun adek-adek Maba. Di sini aku juga belajar dan merasakan bagaimana “sulit”nya meluruskan niat dan menjaga tujuan,banyak kejadian aneh di luar skenario dan rencana ku yang mungkin adalah takdir dan berkah dari-Nya.

Banyak yang ingin ku ceritakan, tapi tak sanggup dan terlalu tabu untuk saya buka di sini, cukuplah saya yang tahu. Hehe, saya malu pada diri saya sendiri..

Terlepas dari semua itu Infantri 2008 adalah sebuah kisah yang telah lalu. Namun begitu, ada banyak pengalaman, ilmu, dan hikmah yang bisa diambil pelajaran untuk ke depan. Hari ini saya sudah mulai kuliah, dan masih ada amanah yang belum dilaksanakan, sudah harus memulai mozaik lain dalam hidup saya. SMANGADH!!!!!!!