Saya juga Munafik

Dulu sewaktu kecil, mengenai proses penciptaan manusia, saya berpemahaman bahwa tulang itu terbentuk terlebih dahulu sebelum adanya daging. Tapi kini saya meyakini bahwa tulang tercipta setelah kemunculan daging.

Karena itu saya dibilang tidak konsisten.

Dulu sewaktu kecil, yang saya mengerti adalah udara yang bergerak lebih cepat memiliki tekanan lebih tinggi dari udara yang diam. Seiring bertambahnya umur  saya melihat pesawat dapat  terbang ke atas justru karena  udara diam atau bergerak lebih lambat tekanannya lebih tinggi dari udara yang bergerak lebih cepat. Dan kemudian saya meyakininya.

Lalu saya dibilang plin-plan.

Dulu sewaktu kecil saya mengira bahwa Photo Voltaic cell mengubah panas matahari menjadi listrik. Namun semenjak mengerjakan skripsi ketika menempuh pendidikan sarjana, kini  saya meyakini bahwa yang dirubah menjadi listrik dalam PV cell adalah foton-foton dalam panjang gelombang tertenntu, sementara panasnya hanya dibuang menjadi rugi-rugi.

Kemudian saya disebut tak punya prinsip.

Mungkin saya masih beruntung, setelah kemudian saya sadar di luar sana lebih banyak orang yang memiliki pengalaman analog dengan apa yang saya miliki namun saya juluki dengan julukan yang lebih kasar, munafik misalnya.

segolongan perkumpulan yang dulunya sangat getol menentang subsidi BBM namun sekarang menolak subsidi BBM karena telah mengkajinya lebih lanjut,

kemudian juga sekelompok manusia yang dulunya menilai bahwa politik itu kotor sekarang terjun langsung dalam dunia politik praktis karena ingin memberikan perbaikan pada politik itu sendiri.

Beberapa waktu lalu saya mendapat nasehat dari quraish shihab  melalui tulisan orang lain,

“Kebohongan adalah informasi yang bertentangan dengan keyakinan, bukan yang bertentangan dengan kenyataan.”

— Quraish Shihab

Bila kebohongan itu ditentukan pada keyakinan, sungguh sukar menerka apa yang ada di dalam hati. Mengkritisi itu harus, tapi menghakimi itu tidak baik.

Kemudian saya tersadar, ada banyak hal yang mungkin tidak kita ketahui dari hidup orang lain dan proses pengetahuan mereka. Itulah kenapa, sebaiknya jangan menghakimi pilihan orang lain hanya dengan persepsi kita sendiri.

Semoga kita bisa lebih arif dalam mengkritik dan memberi masukan.

Advertisements
  1. mungkin nggak ‘munafik’ sih jar. ketoke terlalu kasar dengan kata itu. tidak konsisten, mungkin. tapi untuk yang seperti itu mungkin orang lebih kenal dengan kata ‘munafik’. tapi sebenernya juga mungkin tidak pas. mungkin.

      • fajarbs
      • March 27th, 2015

      iyo sih pren, terbawa kata orang-orang.. mungkin lebih sopan tidak konsisten.. Tapi belakangan ini tidak konsisten sering diasosiasikan dengan munafik…

  2. Apik e tulisane 🙂 iya bener. Dulu saya juga pernah bilang gitu ke orang orang. Dan setelah saya belajar, gak bilang gitu lagi. 🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: