Lagi, tentang Hujan

Bagi saya, puisi Hujan Bulan Juninya pak Sapardi Djoko Damono memang tiada duanya.

Tapi, Menunggu Hujannya mbak Mutia tentang kisah anak kota hujannya nggak kalah soal personifikasinya.

menunggu hujan

kau tau mengapa menunggu hujan itu menyenangkan?
karena tak tentu. menunggu jadi menyenangkan saat kita tak tahu.

dan aku tak tahu.
kapan kau jatuh.
di mana kau jatuh.
pada tanah seperti apa kau jatuh.
dari awan yang mana kau jatuh.
itu—menyenangkan.

menyenangkan karena kau adalah kepastian dan ketidakpastian secara bersamaan.
kau pasti jatuh.
dan—tak pasti jatuh kepadaku.

kau tau sesuatu?
itulah mengapa aku hadir dalam keteraturan waktu.
aku terbit dan tenggelam untukmu.
saat aku ada kujadikan kau berwarna-warni.
saat aku tiada kujadikan kau bening dan murni.

aku tak hanya menunggumu.
aku menungguimu. selalu.
maka jatuhlah.
jatuhlah kepadaku.

sekali saja.
kujadikan kau indah selamanya.

by : Mutia Prawitasari

Advertisements
  1. Jadi lagi nunggu siapa mas?

    • fajarbs
    • March 12th, 2015

    Harusnya menjemput sih, Nis… hahaha

    • Uhuuy, menjemput sopo? :9

        • fajarbs
        • September 17th, 2015

        menjemput, dia dia dia, wkwkwk

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: