Motor dan sebuah perlawanan moral akan logika

Kemaren saya lagi suntuk stress dan berada dalam tekanan. Sebuah pelampiasan adalah pulang tidak naek jemputan kantor. Saya mengendarai motor warisan dari almarhum kakak saya. Seperti biasa, kebiasaan saya sejak jaman dulu ketika naek motor adalah ngelamun, berimajinasi, serta mencari inspirasi..

Tapi kali ini nampaknya imajinasi saya sedikit berlebihan. Dari hasil imajinasi ini, saya mengambil kesimpulan bahwasanya, logika itu tidaklah selalu sejalan dengan moral. Amati cerita berikut.

Karena saya belum punya mobil bagus namun sering dapet tebengan mobil-mobil bagus, mulai strada, innova, avanza, dll saya berkesimpulan.

“Buat apa punya mobil bagus-bagus kalo jarang dipake dan dirasakan. Mendingan gak punya mobil tapi selalu merasakan mobil bagus.”

Kemudian, entah kenapa pikiran saya terbawa ke arah istri. Dan saya pun mulai bermain kata-kata. Logika saya berpikir tentang penggantian kata benda (istri(wanita) ke mobil) terhadap logika bernilai moral tentang mobil tersebut.

“Buat apa punya istri yang cantik dan baik kalo jarang-jarang pulang ke rumah. Mendingan masih sendiri tapi sering bercengkrama dengan wanita cantik dan baik.”

Nah lhooo…. Ketika menemukan kalimat tersebut istighfarlah saya.

Terbukti kan, bahwasanya logika kadang tidak sejalan dengan moral. Mobil dan istri adalah sebuah kata benda. Dengan jalan logika yang sama, ternyata nilai moralnya sangat berbeda.

Image

nb : gambar diambil dari wastetimepost.com

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: