KBRI, pickpocket, dan Polisi Paris

Kemaren minggu saya kembali melanjutkan petualangan saya di kota Paris. Perjalanan yang cukup menyenangkan meski pada awalnya sempet rempong. Semula, kami(saya dan teman sekelas saya) berjanjih untuk kkumpul jam 8.30 untuk sarapan lalu bberangkat jam 9.00 dari asrama. Ada beberapa pilihan tujuan sebenarnya. Yang jelas, hari ini saya ingin sekali melihat Eiffel.

Janjian jam 9 pun hanya jadi isapan jempol. Hanya 3 orang yang siap termasuk saya. Kebanyakan dari teman saya mabuks dan pestta semalam, semuanya moolor. Jengkeel rasanya. Akhirnya terpaksa kami baru berangkat jam 1 siang. 4 jam sudahh saaya menunggu. Itulah kenapa saya bencii sekali dengan yang namanya minuman kerass. Benar-benar merusakk.

Cerita mengenai keindahan Eiffel akan saya ceritakan di lain artikel. Singkat cerita, saya berpisah dengan teman-teman saya sekitar setengah 6.  Saya memisahkan diri karena pingin mampir KBRI sekalian sholat jama’ dhuhur dan ashar.

Menurut perhitungan saya, kalau saya ikut bersama teman sekelas saya, besar kemungkinan akan sampai asrama sekitar jam 9 an. Sedangkan waktu dari  Padahal magrib sekitar jam 20.00 Karena KBRI cukup dekat dari Eiffel ,kata teman saya, Aish, dan sedang ramai orang (ada rapat maksudnya),  saya putuskan mampir KBRI saja untuk shalat.

Ini menjadi perjalanan pertama saya mencari alamat di Paris sendiri. Sedikit tegang pada awalnya, namun setelah menemukan beberapa petunjuk jalan, rasa tegang itu semakin berkurang. Terlebih lagi ketika ketemu orang yang bisa ditanya dengan bahasa Inggris. Sekitar 15 menit berjalan, akhirnya Nampak juga gedung KBRI Indonesia. Tampak ada garuda pancasila terpampang jelas di dekat pintu masuk.

Gedung KBRI ini cukup luas, dan misterius. Banyak lorong-lorong dan pintunya. Suasana di sini ramai. Saya ketemu dengan mas Satya Lagi di sini. Kemudian, saya tunaikan sholat, liat-liat sebentar, dan segera berkemas. Saya pulang mbarengi Aish karena Zuco dan Rovo sama-sama berada dalam jalur hijau (Zuco dan Rovo adalah nama kereta di jalur “hijau”, Melun dan Malesherbes). Di kawasan Il de france, tiap kereta dengan tujuan tertentu punya nama sendiri-sendiri., dan namanya cukup unyu-unyu.

Untuk menuju stasiun dimana Zuco dan Rovo berada, kami harus melalui beberap ajalur kereta metro bawah tanah di Paris. Berhubung saya belum pernah naik kereta metro yang “cantik”, akhirnya kami memutuskan untuk mencari jalur dimana kereta yang “cantik” itu berada, yakni menuju setasiun Franklin D. Roosevelt. Sebagai informasi saja, jenis kereta di kawasan Il de France ini macam-macam. Untuk penjelasan yang lebih lengkap, ini situsnya http://www.transilien.com.

Sesampainya di stasiun, beruntung kami tak perlu menunggu waktu terlalu lama sampai kereta yang dinanti tiba. Ketika kereta perlahan berhenti, semua kisah ini bermula. Kebetulan kereta penuh sesak. Ketika melangkah memasuki kereta, saya merasa ada dorongan yang cukup kuat dari belakang saya. Karena sesaknya kereta, saya agak maklum ketika menerima dorongan tersebut. Tapi semua Nampak aneh ketika tiba-tiba ada seorang lelaki langsung mengeluarkan borgol, memencet tombol darurat di kereta, dan berteriak,

“Police here, there is a pick pocket inside this train”.

franklin D Roosevelt metro station

Tak berapa lama, polisi tersebut mengeluarkan borgolnya menunjuk dua orang wanita berdarah bule, saya, dan Aish untuk keluar kereta.

” Waduh, salah apa ya saya “, pikir saya dalam hati.

Melihat kebingungan saya, pak polisi berpakaian “preman” itu kemudia menunjuk pada tas Aish yang sudah terbuka. Sadar akan keadaan, akhirnya kami menuruti kata pak polisi tersebut keluar dari kereta.

Sekeluarnya dari kereta, pikiran saya langsung berkhayal yang tidak-tidak. Saya takut kalo pak polisi yang nyamar itu ternyata juga kawanan dari pencopet itu yang berniat menculik kami.#efek kebanyakan baca novel dan nonton sinetron.

Pak polisi tersebut kemudian menyuruh saya menunggu empat menit. Perasaan saya mulai tidak karuan. Saya pun mulai tambah ragu, ni orang polisi bukan ya? Bisa jadi dia adalah teman dua cewek pencopet tadi yang akal-akalan aja ingin menculik kami berdua. Maklum, saya pernah baca beberapa novel kang Habiburrahman El Sirazi yang menceritakan jahatnya polisi luar negeri kepada orang Indonesia.

Keraguan mulai sirna ketika dari arah belakang saya datang gerombolan polisi yang berseragam lengkap. Mereka berjumlah sekitar 8 orang.  Nampaknya bapak tadi benar-benar polisi. Kemudian ada seorang polisi wanita yang bahasa inggrisnya nggak karuan sama sekali mengajak ngobrol saya. Intinya, memberi kami dua opsi. Ikut polisi dan dua orang pencopet tersebut ditangkap, atau boleh pulang tapi keamanan di Paris tidak juga bertambah aman. Pilihan yang sulit. Siapa saya, saya apanya Paris. Dan apa untungnya bagi saya. Tapi akhirnya, jiwa malaikat saya lebih unggul dari jiwa setan saya. Mengikuti polisi untuk Paris yang lebih baik menjadi pilihan kami.

Kemudian, kami disuruh mengikuti mereka. Di ujung jalan, mobil polisi bersirine telah menanti. Kami pun dimasukkan di mobil tersebut. Asik juga ternyata naik mobil polisinya. Saya malah jadi menikmatinya. Kapan lagi dianter tour gratis naek mobil polisi. Mobilnya pake sirine pula. Serasa jadi raja jalanan. Hahahaha. Sesampainya di kantor polisi, ternyata cuma disuruh ndengerin scenario kejadian terus disuruh tanda tangan. Herannya, kenapa butuh 1 jam an dan kenapa saya yang disuruh tanda tangan. Hedeh.

Dalam bayangan saya, setelah semua selesai, pak polisi memberi kami makan dan mengantar kami kembali ke stasiun bak pahlawan. Tapi, ternyata cuma dalam bayangan saja. Setelah selesai, kami ditelantarkan begitu saja, dan terpaksa harus mencari jalan pulang sendiri, padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul 22.00 pm. Nasib, nasib.

kantor polisi

Dalam perjalanan pulang, saya jadi sedikit trauma. Trauma kepada orang-orang yang melihat ke arah kami, trauma kepada orang-orang yang bertampang mencurigakan. Yah, setidaknya trauma itu menambah kewaspadaan. Setelah beberapa lama berjalan mencari stasiun metro bawah tanah kami pun sampai di stasiun yang kami ingininkan. Saya pun pulang dengan “Zuco” dan Aish dengan “Rovo”nya. Dan berakhir pulalah pengalaman saya pada hari ini. Pengalaman yang luar biasa bagi saya.  Ternyata, tidak semua polisi luar negeri jahat kepada orang Indonesia :D.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: