Tribute to my lovely brother

“Buat apa marah, jika tidak menyelesaikan masalah.” Teruntukmu sahabat dr. Sutami Budi Fitriawan

by Dody Hendro S on Friday, February 25, 2011 at 2:57pm

Begitulah namamu, pertama kali kukenal ketika dirimu maju dan mengumumkan perlunya team Health Study Club, dimana team ini bisa dijadikan sarana wirausaha teman teman, untuk bisa bekerja lebih professional. “Mata duitan sekali ini orang..”  Fikirku pada saat itu, namun di akhirnya memang hidupmu penuh dengan kewirausahaan, bisnis dan bisnis.

Sutami B.F begitulah singkatannya, “B F”, akan aneh pertama kali ketika orang lain mendengarnya.. “B F” identik sekali dengan singkatan”Blue Film” yang sering kita jadikan bahan tertawa, dan dirimupun membalasnya dengan “Batman Forever”, seorang pejuang superhero, dan memang perjalanan hidup mu berikutnya akan penuh perjuangan kawan bahkan hingga akhir hembus nafasmu. Inspirasi kepahlawanan bagi yang lain, meskipun dirimu tidak mendapatkan gelar itu secara resmi, maka izinkanlah agar dirimu menjadi pahlawan bagi jiwa jiwa pejuang lainnya.

Sutami, nama mu pun identik sekali dengan teman kita yang lain, tapi wanita, utami namanya. Karena tidak ingin dipanggil dengan nama yang sama, maka panggillah dengn “Su Ut”, lalu ketika kutanya kenapa namamu sutami, kau jawab bahwa itu adalah namanya seorang Insinyur yg terkenal, dan seorang pembaharu,Abdullah Ibnu Su Ud.

Namamu begitu sederhana kawan, tetapi hidupmu begitu menyejarah bagi kami, setidaknya untuk ku.

Dirimu lah inspirasi yang membuat kita bergabung bersama dalam jamaah dakwah ini

Dirimu lah simbol atas kesederhanaan dan kesabaran dalam menghadapi yang lain

Dirimulah sosok jas putih, teladan bagi professi ini.

Dirimulah guru, sahabat, kawan, kakak, adik, anak yang menyelipkan kenangan emas dalam memori kami. Setidaknya untuk ku.

Pertama kali kudekat dengan mu, ketika ku bergabung di Health Study Club, dirimu ketuanya dan aku bendaharanya. Kemudian kita berpindah pindah, menjadi pematerinya, di bendahara, hingga akhirnya kita berkumpul bersama menjadi editor. 3 tahun bersama kita disini. Satu pengalaman yg berharga disini, adalah ketika kita mau gajian tiap akhir blok. Kita selalu bertemu, menghitung setiap pendapatan dan pengeluaran dengan teliti, tiap pengeluaran harus ada notanya, bahkan hingga klip sekalipun, bahkan kalau pembagiannya tidak genap, kita kurangi, kita masukkan hingga ke berikutnya. Di sinilah aku belajar mengenai amanah, bagaimana memberikan hak orang lain secara tepat. Bahkan masih terbayang setiap akhir minggu kita mengejar-ngejar para pemateri,  memburu editor, mendatangi fotokopian malam-malam, dan membagikan hasil kerja kita kepada teman teman angkatan dengan penuh kepuasan. Rindunya kita pada zaman itu. Ingatkah permainan kembang api ini?? Ketika kita bersama team yang lain merayakan kebersamaan sebagai team HSC.

Tidak hanya disitu kawan, hidup kita saling bersinggungan dan bersisian.

Gempa Jogja Mei 2006, semoga menjadi saksi atas pemberat amalmu kawan. Ketika yang lain pun berlarian keluar jogja, kau bersama yang lain membantu korban gempa saat itu. Masih ingat kah, ketika kita bersama yang lain melanglang buana ke penjuru jogja baik bersama Mer C ataupun BSMI. Dan salah satunya yang membuat ku ingat ketika kita pergi ke banguntapan Bantul. Mengadakan pelayanan kesehatan gratis satu tempat ke yang lain. Waktupun berlalu, hingga kita hampir melewatkan waktu sholat, dan dirimu begitu gelisah, sangat gelisah,apakah kita termasuk orang yang mendapat keringanan untuk menjama’ sholat atau tidak. Karena begitu hati-hatinya, dirimu pun menelpon ustadz disana. “Berbuat baik, tidak hanya bisa disandarkan pada berbuat baik semata, namun juga harus memiliki dasar. Ikhlas dan Ittiba” Begitu pesan mu kawan. Dak akhirnya kita mendirikan sholat di jalan, beralaskan jas hujan, berwudlukan air yang mengalir, di gelap malam yang hanya berhiaskan kunang kunang. Lukisan alam yang mengiringi sholat kita waktu itu.

Di BEM, awal tahun kita bekerja di Departemen Kewira Usahaan, tempat dirimu akan menjadi bos nantinya, dan aku pindah haluan ke senat mahasiswa. Awal-awal kita bekerja dengan berjualan tiket seminar, beli 5 bonus 1. Merayu orang sana sini, datang dengan senyuman dan mempromosikan seminarnya. Bahkan kita menjadi tukang parkir kampus ketika acara malam budaya AMSA. Memakai jas almamater, kita mengatur motor yang datang, mengenyampingkan malu ini untuk mendapatkan hikmah di baliknya. Kita selalu mencoba segala sesuatu yang baru disini. Setiap profesi adalah mulia, jika memang niatnya tertuju kepada Allah, dan tugas kita, melakukan yang etrbaik pada setiap kesempatan itu.  dan hingga akhirnya kita berpisah, dirimu di BEM, dan aku di senat. Tetapi keluarga BEM mu tentu merasa sangat kehilangan kau kawan.

Hahaha.. para penculik uang fakultas…

Di angkatan, kita berkumpul merumuskan bersama dakwah angkatan, bagaimana menyelipkan Islam dalam setiap nafas kehidupan angkatan kita. Hingga akhirnya muncul SaLAM, nuanSa isLAm Medika. Yang juga berarti Saingan nya KaLAM (SaLAM). Metode Dakwah mu begitu sederhana kawan, sesederhana hidupmu, berikanlah dakwah dengan keteladanan. Geraknya sederhana, kita mengadakan kajian angkatan yang berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain, memisahkan barisan pria dan wanita agar tidak tercampur, hingga akhirnya kita memunculkan ide untuk mengadakan kajian angkatan Akbar, menyatukan tiga angkatan sekaligus, tidak hanya itu, bahkan menyatukan antara regular dan internasional. Pertama kalinya kajian yang membuat penuh audit II, dimana semua kursi kita keluarkan dan peserta kajian duduk lesehan bersama, dan berpadu dalam keakraban. Indahnya ukhuwah itu kawan. Dalam setiap kajian, selalu kuingat posisimu, jika tidak menjadi pemandu acara, maka kau adalah pembaca tilawahnya. Dan ketika kita mendatangkan dr. Jose Rizal J, Sp OT. Orang yang telah menginspirasi kita berdua

Dan dirimupun pemain bola yang handal, kelincahanmu mengalahkan yang lain. Bermain dengan seragam yang sama, di atas lapangan rumput atau pun hanya beralaskan semen di fakultas, ka uterus saja bermain. Dengan mu angkatan ini akhirnya memenangkan piala futsal itu. ketika yang lain dicurangi oleh lawan, di jegal dan terjatuh, mungkin yang lain akan ribut, tapi dirimu tidak. Kau menjaga kesantunan mu diluar dan didalam lapangan. Ketika dirimu dijegal dan terjatuh, ingin rasanya kami yang berada di luar lapangan memarahi yang menjegalmu bahkan mengajak ribut bila perlu, tapi kau terus terbangun  dan tersenyum kepada pemain lawan. Buat apa marah, jika tidak menyelesaikan masalah.Begitulah pesanmu kepada yang lain. Membuatku tertohok, krn pesanmu begitu dalam, khususnya dalam diri ini.

Kau selalu bersabar dan terus bersabar, bahkan ketika kau kehilangan laptop mu. Laptopmu yang dipinjam dan hilang di masjid. Hingga akhirnya orang yang menghilangkan memintaku untuk menemaninya menghadap mu, untuk hanya mengabarkan laptop mu hilang. Kusampaikan pesan itu dengan hati-hati, karena kutahu betapa berharganya laptop ini bagimu kawan. Sejenak kusampaikan, kau hanya terdiam dan bertanya, “Selanjutnya bagaimana?” Dewasa sekali fikiranmu kawan, langsung berujung solusi. Kau selalu yakin bahwa setiap permasalahan ada solusinya. Dan sekarang, yang menghilangkan laptopmu telah menjadi pengusaha fotokopi kawan. Orangnya berkata, dan jikapun bukan karena mu, dia tidak akan menjadi seperti yang sekarang.

Di tahun ketiga, kita bertemu kembali di Asistensi Agama Islam, rumahmu terkadang kami jadikan home base, dengan ayah ibumu yang selalu ramah menyambut, menyediakan teh lemon untuk kami dan makanan seadanya. Kita mengobrol dan berdiskusi bagaimana Asistensi Agama Islam dapat menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Hingga akhirnya sekarang, usaha itu berhasil kawan, mungkin bukan pas kita, tetapi termasuk dirimu adalah peletak dasar pondasi Bangunan Dakwah ini di FK. Semoga Amalan ini terus mengalir untuk mu kawan.

Lebih dari semuanya, kita berkeliling bersama, jalan jalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Kau selalu ditemani oleh kendaraan shogun birumu yang setia itu. Pertama kita ke  Tawang Mangu dan berlanjut ke danau Sarangan, Jawa Timur, 8 jam perjalanan. Kita tempuh bersama melalui 3 Provinsi sekaligus, Jogjakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan kehujanan di Solo pun kita tembus.  Kita ke Ketep dan mengakhirnya dengan makan brongkos, yang ternyata mahal. Ke semarang, bermain dan dirimu pun kehilangan sandal di masjid semarang, ke pantai-pantai jogja yang kita susuri bersama, ke waduk sermo, dan banyak tempat lainnya. Bahkan hingga perbuatan konyol kita, ingatkan jam 9 malam kita ke Kali Urang, mampir ke Gua Jepang, dan ternyata tempat nya gelap menakutkan, lalu kita tidur bersama di mobil, dan paginya kita tutup dengan jalan pagi, makan bersama di depan UII. Indahnya ikatan antara ku dan dirimu.

Ketika kita memasuki dunia profesi, ada isu menerpamu bahwa kau telah berubah, maka kuyakin dengan seyakinnya Allah akan menjagamu, seperti Allah menjaga visiku dengan caraNya. Ku yakin, kau sedang dihadapkan dengan dinamika imanmu, dan ternyata benar, ketika di akhir koas bertemu dirimu, aku melihatmu sedang datang ikut kajian di Masjid Kampus. Sejuknya hati melihatmu kawan. Dan di akhir koas pun kita reuni kembali,reuni di Kali Kuning sebelum  ia hancur.

November 2010, memang bulan besar. Merapi meletus kembali. Kuyakin kau akan terjun lagi kawan, sebagaimana bencana sebelumnya, seperti kau ke pangandaran ketika tsunami disana. Dan sebelum kau di vonis sakit itu. masih ingat ketika ledakan ke tiga. Kita membangun posko kesehatan bersama yang lain, kau datang untuk membantu, siang itu, kau bersama yang lain mengobati hingga 800an pasien, padahal itu baru satu shift. Dan hari itu kita mengobati hingga 1400an pasien. Pantas kau selalu menghindar jaga malam, karena sebenarnya kau sudah sakit. Hingga akhirnya aku mendapat kabar itu lewat telepon dari sahabat mu yg lain, bahwa kau sakit. Awal mendengarnya aku kaget dan terjatuh. Pada awalnya aku menolak diagnose itu, dan kuingin segera menemui mu. Mendapatkan langsung dr lisanmu. Tapi ternyata, kau memberitahu kami dengan kuat, dan masih senyummu yg khas. Sungguh kawan, ku tidak mampu berkata ketika menemui mu dalam kondisi sakit itu.

Di saat sakit pun, kau masih ingin pergi ke magelang untuk membantu korban merapi disana, kau tidak mau mendengar nasehat kami untuk mengurungkan niatmu, tetapi beuntung ayah ibu melarang mu, dan kaupun bisa istirahat. Dan mungkin  inilah bentuk cintamu terhadap dakwahmu, sebagaimana yang dikatakan Ust. Rahmat Abdullah yang lebih awal mendahuluimu. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Selanjutnya setiap kau masuk rumah sakit, dan kami menjengukmu, bahkan ke rumah mu, aku selalu bingung untuk berakata apa melihat dirimu. Aku pun takluk dalam rasa cintaku pada mu, hanya terdiam tak mampu berkata lebih.

Malam sebelum kau pergi kawan, hati ini gelisah, tidak tahu perasaan gelisah ini muncul darimana. Ku terbangun beberapa kali, dan berpindah tempat, tapi itupun tidak membuatku tenang. Hingga pagi harinya.

Pagi ku mendapat sms bahwa kondisimu jatuh kembali, masuk rumah sakit. Jauh dari sini, kuhanya bs berdoa semoga Allah memberikan kekuatan kembali kepada mu. Tengah perjalanan Bogor-Jakarta, ku mendapat telpon, walaw tidak boleh menerima telpon selama menyopir, kupaksakan untuk nerima juga.

“Dod.. Su ut dod..” suara jauh disana, yang sambil terbata mengabarkan.

“Kita kehilangan Su Ut dod…”  Innalillahi.. tak lagi aku mampu berkata lebih. Kututup segera telpon itu.

Pikiran ku saat itu pun berputar, keringat dingin pun keluar.

“Kenapa kamu de’? mobil ber ac kok malah keringatan.” Komentar kakak yang duduk disamping.

“Ndak tahu mba, mungkin psikosomatis.” Dan akhirnya aku minta digantikan sebagai sopir, hingga malamnya pun pikiranku masih berputar, mengingat rindu padamu. Berat hati melepas dirimu, dan diri ini tidak berada disana.

Kawan,

Setiap manusia akan melewati 3 fase dalam setiap hidupnya. Lahir, menikah dan mati.

Dan kini kau melewati fase paling akhir, kau pergi meninggal kan kami. Ohh.. mungkin aku salah, justru dirimu lah yang berpulang ke kampong akhirat, kampung keabadian. Mungkin benar yang dikatakan oleh adikmu, Fajar.

”Akhire, wes ana le pengen ketemu karo koe Mas.. Sing Kuoso.. Dongaku mugo2 iso ketemu nang suwargo yoo.. Aku meri karo koe.. Ra iso mlaku e isih njaluk diterne muter2 neng mejid. Duh Gusti.. nek Koe wes kangen karo masku, aku le nang donya yo ra iso ngopo-ngopo. Mugo-mugo nek Gsti ncen kangen, panyuwunku cepakno nggon ingkang paling sae kanggo masku.. aamin

Memang kawan, Allah, kekasih abadi kita, telah merindukan mu lebih dulu. Rindu untuk berkumpul bersama dengan para Sahabat Rasul yang lainnya. Dan jika pun kau tidak mendapatkan bidadari dunia, bidadari surga mu telah bersiap menantimu kawan.

Dan akhir ini kawan, memang cita citamu sesuai dengan apa yang telah kita lantunkan pada setiap pertemuan pekanan kita, melalui doa ini. Allah telah mewujudkannya.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada Mu, bertemu untuk taat kepada Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman da keindahan tawakkal kepada Mu. Hidupkanlah dengan marifah Mu, dan MATIKANLAH DALAM KEADAAN SYAHID DI JALANMU. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin. Dan, semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan semua sahabatnya.”

“Suratan Tuhan kita disini menapaki cerita bersama

Cinta berkawan karna sehati dalam kasih illahi

Tepiskan hal yang berbeda agar kisahmu teramat panjang

Simpan rapi harapan berkawan selanjutnya.”

(Ed Coustic-Cinta Berkawan)

By

Dody Hendro S

Sahabat mu selalu

Semoga Allah menerima amalan sholehmu, dan mengampuni dosa mu, menjauhkan kau dari neraka, dan memasukkan ke dalam Surga. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran oleh Allah Taala.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: