Mudik : Menghapus atau menambah “Dosa”

Alhamdulillah, musim lebaran kali ini saya masih diberi kesempatan untuk mudik bersilaturahim dengan saudara-saudara, kakek-nenek, dan kerabat yang lain di daerah Bekasi. Bersyukur sekali masih diberikan kesehatan, kemampuan, dan kesanggupan untuk menjalin dan menguatkan hubungan di antara kami. Mudik kali ini cukup menyenangkan, meskipun sempat merasakan “mandi sauna” di tengah jalan. Maklum, dengan kondisi kendaraan “secukupnya” saya dan sekeluarga yang beranggotakan 6 orang tumplek jadi 1 di dalam mobil carry ijo dengan sirkulasi udara paling “modern”, AC, Angin Cendela.

Mudik kali ini serasa sedikit istimewa karena kami mencoba mengambil rute yang berbeda antara berangkat dan pulangnya,, yah maksudnya sekalian jalan-jalan gitu.. Berangkat jam 3.30 AM dari Jogja, kami melesat melewati Purworejo, Kebumen, Gombong, Wangon lalu naek ke utara melewati Bumiayu, Brebes akhirnya sampe Losari. Dan dari Losari perjalanan dilanjutkan melalui Pamanukan, Sukamandi, Cikampek, lalu sampailah di Bekasi Barat. Mulai dari Brebes ini mandi sauna mulai dirasakan, macet, panas, debu, pasar, pedagang asongan, semua bercampur jadi satu. Umpatan-umpatan dari berbagai pihak pun menambah bumbu-bumbu perjalanan ketika ada saja pengendara yang “usil” melakukan aksi “gila” atau salah satu petugas keamanan melakukan kecerobohan. Walau begitu, banyak juga tampang pasrah dan sabar yang menanti dengan tertib kemacetan tanpa membuat suatu manuver “gila” untuk membebaskan diri. Ya, suasana khas mudik tersebut benar kental terasa sepanjang perjalanan. Akhirnya saya dan keluarga tiba di tujuan jam 19.30 an.

Pulang ke Jogja, kami berangkat dari Bekasi sehabis subuh, mengambil rute Cikampek, Indramayu, Cirebon, Batang, Pekalongan, Temanggung, Magelang, lalu Jogja. Perjalanan pulang lebih menyenangkan, lancar, dihiasi hawa khas pegunungan di utara pulau Jawa. Dan tibalah kami di Jogja sekitar jam 6 malam.

Ya,,, begitulah mudik, sebuah agenda tahunan, sebuah budaya khas Indonesia yang menghadirkan suatu romantika tersendiri bagi pelakunya maupun orang-orang yang tidak secara langsung terlibat di dalamnya. Entah kapan dimulai,entah siapa yang meng-inisiasi, entah bagaimana memulainya, tapi yang jelas mudik sekarang ini telah menjadi agenda rutin yang sayang untuk dilewatkan begitu saja, meskipun mudiknya hanya beberapa meter atau beberapa kilometer dari rumah kita.^-^.

Beberapa orang menduga budaya ini bisa sangat kental karena kekerabatan yang cukup kuat antara pendahulu kita dan budaya silaturahim yang baik yang mana merupakan tuntunan dari agama Islam, agama mayoritas penduduk di Indonesia, yang mana diyakini dengan silaturahim dapat memperlancar rizki dan memanjangkan usia. Budaya mudik ini juga muncul mengikuti Idul Fitri yang diidentikkan dengan kembali suci sesuai fitrah yang kemudian diartikan oleh orang jaman sekarang dengan saling memaafkan sehingga terhapus dosa antar sesama manusia setelah sebulan mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada ilahi, setelah hubungan vertikal dilanjutkan horizontalnya, mungkin maksudnya seperti itu. Pada akhirrnya, poin yang paling belakang ini yang kemudian menjadi urgensi yang paling dikejar oleh para pemudik. Saling meminta dan memberi maaf kepada sanak saudara sekaligus melepas kangen dengan menghapus “dosa” akan sesama. Ibaratnya, wisata, silaturahim sekalian menghapuskan dosa dan kesalahan antar sesama umat manusia. Wah indahnya…

Tapi kemudian,, apakah iya begitu? Barangkali sedikit dari kita yang menyadari hal berikut. Seringkali kita melupakan hal-hal yang kita anggap ”sepele” sepanjang perjalanan yang sebenarnya bisa menjadi bumerang bagi kita dan menurut saya menodai tujuan awal mudik. Kita inginnya kan saling memaafkan dengan sanak saudara untuk menghapus dosa-dosa kita, tapi tidakkah kita tahu berapa dosa yang kita buat di sepanjang perjalanan? Berapa jumlah orang telah kita umpati? Berapa jumlah antrian telah kita seroboti?Berapa orang penjual jalanan kita maki? Dan berapa puluh orang lagi yang telah kita sakiti? Atau bahkan mungkin, berapa orang yang telah kita celakai hidupnya? Hoi, tidakkah kita menyadari ini? Meminta maaf kepada saudara kemungkinan besar bisa. Tapi, meminta maaf kepada orang yang tidak kita kenal,, apakah kita berpikir sampai segitu? Sekali lagi.. WOIWOI2! Saya bukannya ingin melarang orang untuk mudik. Saya hanya ingin menyampaikan bahwasanya, mudiklah dengan santun, jangan karena kita ingin cepat sampai di tujuan kita menyakiti dan mendzalimi atau bahkan membunuh saudara kita sendiri. Keinginan untuk cepat sampai di tujuan tidak salah, tetapi mendzalimi orang lainnyalah yang salah. Jangan sampai kita malah menambah dosa ketika kita mudik. Semoga bisa jadi masukan bagi kita bersama.^^

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: