Ternyata, Saya Bisa Menulis (I)

harusya fajar budi suryawan

harusya fajar budi suryawan

Maaf agak narsis, saya sekedar ingin berbagi tentang emosi positif yang pernah saya dapatkan suatu kali yang sampai sekarang ini telah mendorong saya untuk terus menulis dan menulis.

Masih segar dalam ingatan saya,It’s a blatant memory, bahwasanya dulu ketika SD, ujian bahasa Indonesia dan bahasa Jawa menjadi ujian yang paling saya benci. Kenapa coba? Karena pada kedua ujian tersebut terdapat ujian mengarangnya..hehehe.

Dan sudah jadi langganan nilai2-nilai saya pada dua pelajaran tersebut jatuh karena mengarangnya mendapatkan nilai yang lebih jelek dari teman-teman saya yang lain. Terlebih lagi, tulisan tangan saya bentuknya saja sudah membuat orang-orang enggan untuk membacanya lebih jauh, cekeran pithik, ya itulah julukan yang disematkan guru saya waktu itu pada bentuk tulisan tangan saya. Bahkan suatu kali, THB(Tes Hasil Belajar,UAS nya jaman dulu lah!) saya pada pelajaran PPKN gagal mendapat nilai 100(saya diberi nilai nilai 99-t) hanya karena tulisan saya jelek,padahal jawaban saya saat itu benar semua. Sebuah jawaban yang sangat tidak masuk akal anggap saya ketika itu.

Begitu juga pada SLTP, pelajaran yang ada mengarangnya selalu menjadi keengganan bagi saya. Bahkan saat itu saya dan beberapa rekan sekelas saya membentuk GTJ(gankz tulisan jelek) sebagai wujud protes terhadap guru yang memberi PR kepada murid-muridnya dan mendasarkan penilaiannya terhadap bagus tidak bentuk tulisannya.

Tapi akhirnya saya kini menyadari satu alasan kuat kenapa tulisan tangan saya tidak begitu bagus bentuknya.

Ehm,, rupa-rupanya tangan saya cukup keteteran dalam mengejar kecepatan berpikir otak saya sehingga menulisnya sampai terseok-seok,hehehehehe

Sebuah karunia yang sungguh tak terkira,

Maaf jadi menelenceng,,,heheheKembali ke pokok cerita awal, sekumpulan kenangan buruk tentang dunia kepenulisan saya tersebut akhirnya cukup mendoktrin saya dengan doktrin yang kurang baik bahwasanya saya kurang punya keahlian dalam menulis.

Dan doktrin yang belum teruji secara metodologi tersebut terus menggelayuti saya sampai SMA. Sampai pada suatu ketika….

Advertisements
  1. whew,,mang dulu pas SMP da guru yang kayak gitu yaa…??gak tw tuh aku,,hehe

    btw kok ceritanya bersambung nih,,hehe

  2. eh bentar,,tapi apa hubungan antara gambar yang bertuliskan namamu itu dengan “isi tulisanmu”…..???bingungg…..

    • syahrina
    • August 13th, 2008

    hueheuheuheu,,
    masih ingat sekali tulisan tanganmu waktu SD jar,,
    😀

    • fajarbs
    • August 14th, 2008

    ada, tu lho, yang sukanya suruh ngrangkum buku……
    mmm, tu foto bakal ketauan buat apa kalo edisi yang kedua
    dah tak up load…hehehehe

    • fajarbs
    • August 14th, 2008

    iyo iyo vi,,,hihihihi

  3. Tuing

    • wahyukresna
    • August 18th, 2008

    jangan-jangan itu bukan punya mu??? hayo… :mrgreen:

  4. sampai pada suatu ketika…

    kok ceritanya nggantung?? =)

    • fajarbs
    • August 31st, 2008

    septia : sekarang dah g nggantung lagi,hehehehe

  5. xixiixix.. sepatu *sepakat + setuju* sama alvi..
    masih inget sm tulisan SD toohh.. xixixiix…..:P
    nek dl yg paling horor pas SD tu ya pelajaran bu Lasmi.. xiixixi.. :))

    • fajarbs
    • February 25th, 2009

    haha,, masih inget,, waktu pendalaman materi, yang nggak bisa langsung disuruh keluar….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: