Idealisme Sang Pedang Bermata Dua

idealisme, sang pedang bermata dua

Pemuda adalah harapan bangsa. Di tangan para pemudalah kelak tangkup kepemimpinan bangsa ini dipertaruhkan. Karena mau tidak mau yang akan memegang bangsa ini mulai 10 tahun yang akan datang adalah mereka.

Umumnya ketika memasuki masa-masa remaja, muncul jiwa-jiwa dan semangat baru dalam diri seorang pemuda. Jiwa yang ambisius, idealis, selalu ingin tahu, serta sesuatu yang dia butuhkan dan ingin dia tunjukkan guna mengaktualisasi keberadaannya. Jiwa-jiwa baru tersebut tidak bisa lantas kita kekang ataupun kita bebaskan begitu saja. Butuh suatu manajemen yang baik supaya nantinya berkembang sedemikian rupa sehingga kelak bisa memberi manfaat. Idealis adalah salah satu yang menonjol diantaranya. Idealis adalah suatu jiwa yang membuat pemiliknya harus selalu melakukan segala yang ideal sesuai dengan pikiran dan cara pandangnya. Idealis adalah salah satu jiwa yang mutlak dibutuhkan seorang pemimpin karena di dalam idealismelah tersimpan cita-cita tinggi yang berusaha untuk diwujudkan.

Pada masa-masa ini juga, seorang pemuda belajar untuk menjadi seorang pemimpin, minimal bagi dirinya seorang. Hal itu tampak wajar dan lumrah karena seperti yang sudah diutarakan tadi sebelumnya bahwa seorang remaja ingin mengaktualisasi keberadaan dirinya.

Ketika seseorang mulai belajar memimpin mau tidak mau dia harus mulai menyadari bahwa banyak sekali perbedaan yang muncul disekitarnya. Manusia sebagai salah satu objek maupun subyek misalnya, manusia ada yang pintar, ada yang bodoh, ada pembangkang, dan ada pula yang selalu sendika dawuh terhadap pemimpinnya, Orang-orang tersebut tentunya juga datang dari berbagai macam latar belakang yang berbeda. Dia juga pada akhirnya menyadari bahwa ternyata banyak aspek yang perlu dilibatkan dan diperhatikan secara seksama. Hal tersebut sangatlah penting karena apabila diabaikan maka bukan manfaat yang kelak akan didapat dan diraih. Untuk itu dibutuhkan suatu rasio dan suatu cara pandang meluas yang mana bisa menjaganya untuk menghargai dan tidak berbuat semena-mena terhadap orang lain.

Cerita di kapal

Pernah naik kapal? Ceritanya begini, ada sebuah kapal yang sedang melakukan pelayaran mengarungi samudra luas. Kapal itu terbagi menjadi beberapa kompartemen. Penumpang kapal itu pun bermacam macam : ada yang tua, ada yang muda, bahkan ada yang masih kecil. Ketika itu, entah kenapa terjadi gangguan komunikasi antara kapal dengan pelabuhan terdekat. Sialnya lagi, tiba-tiba terjadi kebocoran pada lambung kapal itu sehingga diprediksi dalam rentang waktu 30 menit lagi kapal akan tenggelam. Sayangnya pada saat itu kapal tidak sedang dalam keadaan siap bila terjadi keadaan darurat, maksudnya saat itu sedang tidak ada peralatan darurat yang seharusnya digunakan bilamana terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama. Saat itu keadaan sangat panik. Bahkan, karena mereka sangat panik kebanyakan orang tidak tau bagaimana keadaan penumpang lain di komparteman lain.

Sekarang marilah kita berandai-andai. Berandai-andai? Tak apalah sedikit berandai-andai baik untuk masa depan. Jepang pun mungkin tak akan semaju sekarang apabila tak ada orang Jepang yang berandai-andai dan kemudian menulis komik Doraemon. Andaikanlah kita berada dalam suatu kompartemen dimana disana terdapat anda, seorang ibu muda yang hamil tua,nenek-nenek, dan seorang anak kecil. Anda sendiri adalah seorang pemuda berusia sekitar 25 tahunan. Berarti sekarang ada 5 nyawa yang perlu diselamatkan dalam tubuh 4 orang penumpang, tapi hanya ada sebuah balok kayu yang hanya muat untuk 1 orang. Abaikanlah penumpang di kompartemen lain. Apa yang akan anda lakukan? Kalau anda berpikir secara idealis, anda akan berpikir bahwa semakin banyak nyawa yang diselamatkan akan semakin baik. Atau anda memiliki pemikiran bahwa orang muda lebih kuat sehingga orang tua lebih baik didahulukan. Bisa juga anda juga berpikiran bahwa anak kecil lebih utama karena usia harapan hidupnya lebih lama secara matematika walaupun tetap tuhanlah yang nantinya akan menentukan. Nah, dilain sisi anda juga berpikir secara realistis bahwa tidaklah mungkin seorang ibu yang sedang hamil tua mampu untuk berenang dalam tempo waktu yang lama. Tak mungkin juga bagi seorang nenek kuat untuk berenang dalam rentang waktu yang lama dan menempuh jarak yang jauh. Anak kecil malah belum pernah sempat untuk diajari berenang.

Mana yang kita pilih, berpikir secara realistis ataupun idealis. Saya rasa dengan melihat konteks di atas, pemahaman idealis dan realistis yang diangkat dalam esai ini sudah cukup untuk memberikan pemahaman supaya pembaca lebih memahami esai ini.

Pemuda dan Pemikirannya

Pemuda tentunya bukanlah seorang yang sudah tua yang sudah amit-amit. Pemuda juga bukanlah anak-anak kecil yang masih imut-imut. Namun anehnya seorang pemuda yang berawal dari usia remaja bisa saja memiliki pemikiran yang sudah dewasa dan bijaksana laksana orang tua. Bisa juga seorang pemuda malah berpandang seperti anak kecil yang senang coba-coba, kreatif, penuh inovasi, namun kadang kalanya kurang bisa bertanggung jawab dan kurang bisa menempatkan diri. Luar biasanya lagi, seorang pemuda bisa saja berpola pikir yang bijak seperti orang tua dan penuh inovasi seperti anak kecil. Tentunya inilah yang kita semua inginkan.

Tinggikan cita-citamu!

Semua orang yang sedang memasuki masa remaja biasanya dikendalikan oleh semangat yang amat tinggi dan entah kenapa mereka memiliki kecenderungan menjadi orang yang sok idealis yang kadang cenderung ambisius.

Tak salah memang memiliki pemikiran yang idealis. Walau kadang itu membawa kita nun jauh ke alam mimpi dan khayal. Seorang yang idealis cenderung berpikir secara idealnya meskipun pada kenyataannya tidak ada sesuatu yang bersifat ideal. Bahkan sebenarnya teori Robert Boyle dan J L Gay-Lussac (siapa mereka?) tentang gas pun seharusnya tak bisa digunakan karena sebenarnya gas yang benar-benar ideal sampai sekarang belum pernah ditemukan sekalipun. Namun ternyata mereka, bahkan kita sekarang ini masih menggunakan rumusnya (PV=nRT) walaupun pada kenyataannya seperti tadi dikatakan bahwa tidak ada gas yang benar-benar ideal. Dan realitanya berkat rumus yang mereka temukan dengan menganggap semua gas tersebut ideal mereka berhasil membantu ilmuwan-ilmuwan lain dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sampai sejauh ini.

Idealis sangat dibutuhkan para pemimpin untuk sebuah ataupun banyak perubahan karena tentunya untuk merubah sesuatu kita butuh semangat dan impian yang tinggi. Hal tersebut yang nantinya akan membimbing kita untuk terus berupaya melakukan perubahan, Jepang adalah contoh kecil.

Sebenarnya kartun sepakbola Kapten Tsubasa yang beberapa waktu lalu jadi dambaan bocah-bocah Indonesia, sebenarnya sudah beredar di negri Matahari Terbit sekitar awal 90-an. Kartun itu awalnya dibuat dengan tujuan untuk menjadikan anak-anak Jepang bercita-cita tinggi supaya kelak Jepang bisa berbuat banyak di Piala Dunia, bahkan kalau perlu menjadi seorang juara dunia.

Tampak idealis sekali memang. Tapi berkat itu semuanya, berkat semangat yang terkandung dalam kartun Kapten Subasa, Jepang sekarang sudah bisa berbuat banyak dalam kejuaraan Piala Dunia, coba lihat World Cup 2002. Selain itu beberapa pemainnya sudah tak asing lagi bagi telinga kita dan mereka pun telah turut ambil bagian dalam gemerlap kompetisi sepak bola Eropa, mulai dari Lega Calcio di Italia, Liga Premier di Inggris, sampai Eredivise di Belanda. Pernah dengar nama semisal Shunsuke Nakamura, Hidetoshi Nakata, atau Shinji Ono? Mereka adalah beberapa contoh yang sudah berhasil.

Pahamilah keadaan sekitar!

Seperti yang tadi sudah diutarakan bahwa pemuda yang berpikiran idealis cenderung menganggap semua hal yang bersangkutan bersifat ideal padahal kenyataannya tidak ada sesuatu pun yang ideal di alam fana ini. Memang dalam beberapa konteks tertentu hal tersebut dapat bermanfaat. Tapi kenyataannya berpikir idealis malah menyebabkan kita terjerat dengan konsep-konsep ideal kita, sehingga kita tidak mampu bergerak bebas, bahkan akan merugikan diri kita sendiri. Apalagi bila kita tidak mempertimbangkan aspek-aspek dan lingkungan yang ada disekitar kita.

“Rencana cukup baik yang dilaksanakan hari ini jauh lebih baik dari rencana yang sempurna tapi dilaksanakan esok hari.” . Dari perkataan yang kita kutip berikut tampak bahwa sesuatu yang baik yang dikerjakan sekarang akan memberikan dampak yang lebih baik dari pada rencana sempurna yang akan dilaksanakan esok hari.

Biasanya bagi kalangan idealis, idealnya mereka melakukan hal yang sempurna dan mereka berusaha semaksimal mungkin memikirkan sesempurna mungkin sesuatu yang akan dilakukan. Selain itu, sekali mereka memiliki suatu pemahaman yang baku tentang bagaimana melakukan sesuatu mereka akan selalu berpegang teguh pada apa yang mereka pahami tersebut bahkan ketika sesuatunya sudah berubah mereka tetap berpegang teguh pada apa yang mereka pahami. Tidak bisa dibilang buruk memang, tapi ketika kita tidak bisa menempatkan diri pada saat yang tepat untuk mengerjakannya kekacauan sosial akan muncul.

Semisal, Pada suatu sekolah bernama SMA X di kota Y seorang siswa sebut saja Dodo sedang mengikuti pelajaran jam pertama pada hari itu. Kebetulan karena dia tidak begitu pintar dalam bidang IPS dia masuk kelas IPA. Kebetulan juga pelajaran jam pertama pada hari itu adalah pelajaran Sejarah. Aneh memang kelas IPA kok ada pelajaran Sejarah. Tapi apa boleh buat, sekolah tersebut mengeluarkan kebijakan bahwa semua kelas IPA tetap menerima pelajaran Sejarah walau hanya dengan alokasi waktu hanya 1 jam tiap minggu itupun hanya berlangsung untuk semester pertama.

Pada hari itu juga pada jam kedua nantinya akan diadakan ulangan matematika oleh Pak SH. Kebetulan Pak SH adalah guru yang sangat terkenal akan soal-soalnya yang cukup mematikan. Karena Dodo adalah siswa kelas IPA dia lantas berpikir bahwa baginya pelajaran Matematika dan IPA harus lebih diutamakan, jadi pada saat itu dia memutuskan untuk belajar matematika dan mendengarkan pelajaran dari guru Sejarah tersebut sambil lalu.

Bisa dibayangkan betapa marah sang guru ketika dia merasa tidak dihargai. Dodo pun tak mau kalah dia terus berargumen bahwa dia berada dalam kelas IPA dan dia punya skala prioritas yang lebih penting karena kelak dia akan menghadapi tes IPA dalam seleksi masuk universitasnya, bukan mata pelajaran IPS, apalagi nanti ada ulangan.

Saya rasa kejadian seperti itu sangat sering terjadi pada keseharian kita. Cukup sulit memang. Dodo juga sebenarnya tak sepenuhnya salah karena kita tahu bahwa dia memiliki prioritas-prioritas yang patut untuk lebih didahulukan dan juga pemikirannya pun cukup beralasan. Tapi tunggu dulu, apakah lantas kita apatis dengan lingkungan sekitar? Alangkah tidak bijaksananya kita apabila tidak menghargai seseorang yang sedang berbicara dan sistem yang berlaku? Meskipun kita akui bersama bahwa kadang kala sistem tersebut belum bisa dikatakan baik. Untuk menjadi seorang pemimpin yang ingin dihargai hal pertama kali yang harus kita lakukan adalah menghargai orang lain. Sangat tidak adil kalu kita meminta diri kita dihargai padahal kita sendiri tidak mau menghargai orang lain.

Berusahalah lebih realistis

Carut marut kehidupan berbangsa dan negara kita sekarang ini mau tidak mau diakibatkan oleh rendahnya kualitas pendidikan kita. Seperti yang kita tahu bahwa pendidikan di Indonesia sekarang ini kualitasnya memang masih tertinggal jauh dari bangsa lain. Usut punya usut ternyata yang menyebabkan pendidikan kita kalah jauh adalah karena fasilitas serta sarana dan prasarana pendidikan kita masih jauh dari layak. Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena kurangnya alokasi dan jumlah dana untuk pendidikan. Sekali lagi, idealnya alokasi dana untuk pendidikan kita seharusnya sesuai dengan ketentuan Sisdiknas yaitu 20% dari total seluruh APBN. Namun maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Pemerintah hanya bisa menyediakan dana 9.1% dari total seluruh APBN. Tidak ideal memang, namun mau bagaimana lagi. Dana yang lain sudah dialokasikan untuk kebutuhan primer lainnya. Apa kita mau bila listrik, BBM, dan air kita tidak lagi disubsidi.

Bisa saja kita menggugat pemerintah dengan mengklaim bahwa itu semua sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. Tapi, apa yang bisa kita perbuat. Realitalah yang membuat kita tidak bisa selalu menjadi orang idealis.

Yang satu ini sedikit menggelikan karena banyak teman saya yang mengalaminya. Kami adalah pelajar SMAN Y(anggap saja SMA ini adalah SMA favorit dan orientasi lulusannya sudah ke PTN unggulan nasional bahkan beberapa ingin ke luar negri). Suatu kali kami ditawari sekolah bermacam-macam jenisnya dan dari perguruan tinggi yang beraneka ragam pula. Ada tawaran itu yang berasal dari lulusan kami yang kini bersekolah di luar negri, ada pula tawaran untuk sekolah di PTN favorit dengan program unggulan juga semisal fakultas Kedokteran Internasional.

Sebenarnya semua yang ditawarkan sangat menarik karena prospek lulusannya sekiranya cukup cerah. Namun semuanya bukan tanpa masalah, untuk menjadi siswanya minimal 100 juta harus dibayarkan hanya untuk uang pembangunan saja. Itu belum termasuk SPP, biaya praktikum dan sebagainya. Bagi beberapa teman saya yang notabenenya anak orang berpunya toh itu bukan suatu hal yang masalah karena uang sejumlah itu nantinya sesuai dengan apa yang kelak akan mereka terima. Namun, bagi beberapa teman saya yang lain itu merupakan masalah yang sangat besar. Penghasilan orang tua mereka selama 5 tahun bersih saja baru bisa untuk membayar uang pembangunan. Mau makan dengan apa keluarga mereka nantinya, apakah mereka adil terhadap saudara mereka yang rela tidak makan sesuap nasipun. Alangkah lebih baik kalau ambil fakultas yang lain yang lebih ekonomis dan uang sisanya untuk modal usaha.

Kita harus memiliki cita-cita yang ideal, tapi kita pun harus memiliki pandangan realistis yang sesuai dengan kenyataan. Sering kali sikap idealis menyebabkan kita terjerat dengan konsep-konsep ideal kita, sehingga kita tidak mampu bergerak bebas, bahkan akan merugikan diri kita sendiri. Tidak semua yang ideal dapat kita lakukan atau dapat kita raih. Ada kalanya kita harus menyesuaikan diri dengan kenyataan dan kemampuan diri, sehingga hasil yang didapat bisa lebih maksimal(paragraf ini dikutip dari perkataan AA Gym dalam Republika Online).

Realistislah kuncinya

Memahami yang sudah diutarakan sebelumnya dan telah banyak kita temui kisah kisah yang seperti tadi. Lantas apa yang kita harus lakukan? Sebagai seorang pemuda amatlah penting untuk memiliki sikap idealis dan kita tidak bisa secara serta merta mengabaikannya begitu saja karena dengan keidealistisan kita bisa selangkah lebih dekat dalam meraih impian. Untuk itu, sikap idealis tersebut haruslah kita manfaatkan, kelola, dan manajemen sedemikian rupa sehingga kelak dapat bermanfaat.

Oleh karena itu, kita membutuhkan pengendalian emosi dan penggunaan rasio dalam berpikir serta cara pandang yang luas. Pengendalian emosi membuat kita tidak mudah terpancing amarah. Berpikir dengan rasio membuat kita terhindar dari sebuah idealisme sempit. Sedangkan cara pandang yang luas membuat kita mengerti tentang bagaimana menghargai dan memahami orang lain.

Pernah melihat sebuah bangun ruang limas segiempat? Dari satu sisi saja kita tidak akan bisa melihat keseluruhan bangun tersebut. Bahkan, bilamana sudut pengambilannya tidak tepat barangkali kita hanya bisa melihat satu sisi saja. Bagaimana kalau ternyata satu sisi yang kita lihat adalah sisi yang buruk sementara 4 sisi yang lainnya adalah sisi yang baik? Untuk itulah kita membutuhkan cara pandang yang luas. Memang tidak mungkin bagi kita untuk dapat melihat semua sisi limas segiempat tersebut hanya dari satu sisi. Dengan menggunakan cara pandang meluas, walau sama-sama melihat hanya dari satu sisi, kita bisa mendapatkan sudut yang mana bisa melihat hampir semua dari bagian limas segi empat tersebut.

Dengan tiga hal tersebut para pemuda yang kelak menjadi nahkoda bangsa ini bisa menjadi pemimpin yang idealis tanpa mengabaikan realita-realita yang ada. Sehingga bisa meraih impian setinggi mungkin dengan memaksimalkan talenta dan kapabilitas yang dimilikinya.

Advertisements
  1. aslmkm BS!
    dah ambil jacket kn?

    blogmu ini ku link y di t4ku..
    link balik y!

  2. ass. halo jar, blogmu kok apik le?

  3. iki kethoke essay lombamu… iya tho… 😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: