“A man Named Fajar!”
Bukan sekedar mahasiswa biasa

Oct
22

Alhamdulillah, musim lebaran kali ini saya masih diberi kesempatan untuk mudik bersilaturahim dengan saudara-saudara, kakek-nenek, dan kerabat yang lain di daerah Bekasi. Bersyukur sekali masih diberikan kesehatan, kemampuan, dan kesanggupan untuk menjalin dan menguatkan hubungan di antara kami. Mudik kali ini cukup menyenangkan, meskipun sempat merasakan “mandi sauna” di tengah jalan. Maklum, dengan kondisi kendaraan “secukupnya” saya dan sekeluarga yang beranggotakan 6 orang tumplek jadi 1 di dalam mobil carry ijo dengan sirkulasi udara paling “modern”, AC, Angin Cendela.

Mudik kali ini serasa sedikit istimewa karena kami mencoba mengambil rute yang berbeda antara berangkat dan pulangnya,, yah maksudnya sekalian jalan-jalan gitu.. Berangkat jam 3.30 AM dari Jogja, kami melesat melewati Purworejo, Kebumen, Gombong, Wangon lalu naek ke utara melewati Bumiayu, Brebes akhirnya sampe Losari. Dan dari Losari perjalanan dilanjutkan melalui Pamanukan, Sukamandi, Cikampek, lalu sampailah di Bekasi Barat. Mulai dari Brebes ini mandi sauna mulai dirasakan, macet, panas, debu, pasar, pedagang asongan, semua bercampur jadi satu. Umpatan-umpatan dari berbagai pihak pun menambah bumbu-bumbu perjalanan ketika ada saja pengendara yang “usil” melakukan aksi “gila” atau salah satu petugas keamanan melakukan kecerobohan. Walau begitu, banyak juga tampang pasrah dan sabar yang menanti dengan tertib kemacetan tanpa membuat suatu manuver “gila” untuk membebaskan diri. Ya, suasana khas mudik tersebut benar kental terasa sepanjang perjalanan. Akhirnya saya dan keluarga tiba di tujuan jam 19.30 an.

Pulang ke Jogja, kami berangkat dari Bekasi sehabis subuh, mengambil rute Cikampek, Indramayu, Cirebon, Batang, Pekalongan, Temanggung, Magelang, lalu Jogja. Perjalanan pulang lebih menyenangkan, lancar, dihiasi hawa khas pegunungan di utara pulau Jawa. Dan tibalah kami di Jogja sekitar jam 6 malam.

Ya,,, begitulah mudik, sebuah agenda tahunan, sebuah budaya khas Indonesia yang menghadirkan suatu romantika tersendiri bagi pelakunya maupun orang-orang yang tidak secara langsung terlibat di dalamnya. Entah kapan dimulai,entah siapa yang meng-inisiasi, entah bagaimana memulainya, tapi yang jelas mudik sekarang ini telah menjadi agenda rutin yang sayang untuk dilewatkan begitu saja, meskipun mudiknya hanya beberapa meter atau beberapa kilometer dari rumah kita.^-^.

Beberapa orang menduga budaya ini bisa sangat kental karena kekerabatan yang cukup kuat antara pendahulu kita dan budaya silaturahim yang baik yang mana merupakan tuntunan dari agama Islam, agama mayoritas penduduk di Indonesia, yang mana diyakini dengan silaturahim dapat memperlancar rizki dan memanjangkan usia. Budaya mudik ini juga muncul mengikuti Idul Fitri yang diidentikkan dengan kembali suci sesuai fitrah yang kemudian diartikan oleh orang jaman sekarang dengan saling memaafkan sehingga terhapus dosa antar sesama manusia setelah sebulan mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada ilahi, setelah hubungan vertikal dilanjutkan horizontalnya, mungkin maksudnya seperti itu. Pada akhirrnya, poin yang paling belakang ini yang kemudian menjadi urgensi yang paling dikejar oleh para pemudik. Saling meminta dan memberi maaf kepada sanak saudara sekaligus melepas kangen dengan menghapus “dosa” akan sesama. Ibaratnya, wisata, silaturahim sekalian menghapuskan dosa dan kesalahan antar sesama umat manusia. Wah indahnya…

Tapi kemudian,, apakah iya begitu? Barangkali sedikit dari kita yang menyadari hal berikut. Seringkali kita melupakan hal-hal yang kita anggap ”sepele” sepanjang perjalanan yang sebenarnya bisa menjadi bumerang bagi kita dan menurut saya menodai tujuan awal mudik. Kita inginnya kan saling memaafkan dengan sanak saudara untuk menghapus dosa-dosa kita, tapi tidakkah kita tahu berapa dosa yang kita buat di sepanjang perjalanan? Berapa jumlah orang telah kita umpati? Berapa jumlah antrian telah kita seroboti?Berapa orang penjual jalanan kita maki? Dan berapa puluh orang lagi yang telah kita sakiti? Atau bahkan mungkin, berapa orang yang telah kita celakai hidupnya? Hoi, tidakkah kita menyadari ini? Meminta maaf kepada saudara kemungkinan besar bisa. Tapi, meminta maaf kepada orang yang tidak kita kenal,, apakah kita berpikir sampai segitu? Sekali lagi.. WOIWOI2! Saya bukannya ingin melarang orang untuk mudik. Saya hanya ingin menyampaikan bahwasanya, mudiklah dengan santun, jangan karena kita ingin cepat sampai di tujuan kita menyakiti dan mendzalimi atau bahkan membunuh saudara kita sendiri. Keinginan untuk cepat sampai di tujuan tidak salah, tetapi mendzalimi orang lainnyalah yang salah. Jangan sampai kita malah menambah dosa ketika kita mudik. Semoga bisa jadi masukan bagi kita bersama.^^

Oct
10

THR dan THR, yupz, barangkali bagi beberapa kalangan, beberapa waktu yang lalu, mendengar istilah THR pasti diasosiasikan dengan sesuatu yang menyenangkan, indah, dan slalu dirindukan. Namun, tidak bagi saya. Bagi saya THR adalah hal yang mengganggu agenda lebaran, menjengkelkan, dan tidak akan saya rindukan, huh menyebalkan. Mengganggu liburan saja! Memangnya tidak ada waktu lain apa? Jadi g bisa muter2, bersilaturahim dan menjenguk kawan lama dengan leluasa deh. O iya, lupa,, THR = Tugas Hari Raya!!!

Sep
01

Setelah beberapa kali membaca dan menghadiri kuliah, saya dapat menarik kesimpulan bahwa ternyata orang yang kesetrum itu terbakar karena arus listrik yang sangat besar. Dan karena itulah ia mati. Mohon kalau kesimpulan saya salah tolong dibenarkan.

That being a question is…. Yang jadi pertanyaan kemudian adalah, kenapa kok di tempat yang listriknya dahsyat selalu diberi plang peringatan, “Awas tegangan tinggi!” bukan lantas malah, “ Awas arus listrik besar”. Kenapa coba?

Saya tidak tahu, apakah itu sebuah keterlanjuran, ataukah hanya karena persoalan diksi dan pemilihan kata, atau kesimpulan yang saya ambil salah..

Ada yang bisa menjawab?

Aug
25

Minggu,24 Agustus 2008, 04.30 WIB, secara reflek, aku terbangun dari tidurku. Ada sesuatu yang aneh, yang mengganjal dan tidak biasa. Sejenak ku berpikir, “oh ya, Infantri 2008 telah usai kemaren malam,”. Ya begitulah, pagi itu aku tidak lagi harus bangun dan mandi pagi sekali untuk datang sebelum jam 5 pagi di Fakultas Teknik UGM. Inisiasi Fakultas Teknik Untuk Negeri 2008 sudah usai.

Meskipun pada awalnya aku berencana untuk tidak terlalu “masuk” dalam acara ini, pada akhirnya, tetap saja ada sesuatu yang berat untuk ditinggalkan seusai acara tersebut. Tentunya sekumpulan kisah dan kenangan, dan mungkin sebuah awal untuk menyusun kisah hidup di masa depan.

Ya… sebenarnya keterlibatanku di Infantri 2008 sudah mulai sejak sekitar 1 bulan yang lalu. Ada banyak ilmu yang kudapat di sini, mulai dari training yang diberikan, sampai pengalaman empiris melalui interaksi di lapangan dengan sesama pemandu maupun adek-adek Maba. Di sini aku juga belajar dan merasakan bagaimana “sulit”nya meluruskan niat dan menjaga tujuan,banyak kejadian aneh di luar skenario dan rencana ku yang mungkin adalah takdir dan berkah dari-Nya.

Banyak yang ingin ku ceritakan, tapi tak sanggup dan terlalu tabu untuk saya buka di sini, cukuplah saya yang tahu. Hehe, saya malu pada diri saya sendiri..

Terlepas dari semua itu Infantri 2008 adalah sebuah kisah yang telah lalu. Namun begitu, ada banyak pengalaman, ilmu, dan hikmah yang bisa diambil pelajaran untuk ke depan. Hari ini saya sudah mulai kuliah, dan masih ada amanah yang belum dilaksanakan, sudah harus memulai mozaik lain dalam hidup saya. SMANGADH!!!!!!!

Aug
25

Saat itu saya telah menginjakkan kaki saya di kelas XI di SMA Negri 1 Yogyakarta. Saat itu saya sedang sibuk-sibuknya menyiapkan ujian sertifikasi Internasional Class(wuzz….biasa wae,hehehe, bukan A level kok!sekedar IGCSE) dan mengurusi PTB WDP XXI. Bukan secara kebetulan, saya saat itu menjadi salah satu ketua(ketua II) pada PTB WDP XXI bersama mas Firman(ketua umum) n mas Yovan(ketua I).

Nah karena itulah kami bertiga jadi sering jalan bersama..(Jangan salah ditafsirkan lho!). Sampai pada suatu ketika pada pertemuan di Waroeng Steak di jalan Taman Siswo Yogyakarta terjadilah perbincangan itu.

Saat itu dengan secara tidak biasanya, mas firman mengajak saya n yovan untuk bincang2 di sana. Dengan senang hati dan tidak menolak, maka saya iyakan tawaran itu,, maklumlah, pelajar,hehe.

Dalam perbincangan tersebut salah satunya, ternyata mas firman sedang ingin berbagi kebahagiaan kepada saya dan mas yovan karena dia baru saja menang suatu lomba kepenulisan.

Sejak saat itu, sedikit terbersit keinginan kembali untuk mencoba untuk menghilangkan ”trauma” kepenulisan itu. Kita kan sama-sama makan nasi, jika orang lain bisa, kenapa saya tidak?

Sampai pada suatu ketika, mas Firman yang nampaknya mulai membaca gelagat keinginan saya, memberitahu saya kalo ada lomba esai kepemudaan dari Mennegpora. Sulit juga untuk memulai, tapi karena tekad sudah bulat dan kebetulan saya saat itu terkena wabah Kantong Kering, akhirnya berkenan untuk mencoba kembali memulai aktivitas menulis yang sudah lama sekali sudah tidak saya lakukan.

Berbekal baca-baca tulisan mas firman dan sedikit pengarahan beliau, akhirnya saya mencoba untuk membuat tulisan. Dan Akhirnya, selesai sudah, tanpa sempat minta masukan dari orang-orang(karena sudah mepet deadline) saya masukkan saja tulisan saya tersebut. Karya saya yang pertama. Entah mengapa, seusai ”berhasil”membuatnya, saya merasa kelegaan yang sungguh tak terhankan, tak peduli bisa menang apa tidak, saya telah merasakan suatu kenikmatan yang tak terhankan, ternyata saya bisa juga menulis…

Detik, menit, jam, dan hari pun berlalu..

Saya lupa hari apa, tapi yang jelas saat itu, kami tiga ketua PTB, hendak melakukan survey ke Srunggo(tempat kami melakukan kemah Bhakti) di daerah Imogiri. Tak dinyana, mas Firman menanyakan kabar tulisan saya, saya pun spontan mengatakan kalo saya belum sempat ngenet. Dan beliau pun kemudian kalo beliau tadi sempet ngenet, dan menemukan nama Fajar Budi Setiawan sebagai juara pertama kategori pelajar, dari Jogja lagi. Ehm,, kemudian muncul rasa yang campur aduk dalam hati saya. Nama saya kan Fajar Budi Suryawan bukan Setiawan. Masalahnya di SMA saya juga ada kakak kelas yang namanya Fajar Budi Lestari dan juga Fajar Budi Marwanto, jadi saya pikir itu orang lain meskipun dalam hati saya sangat berharap bahwa A man Named Fajar tersebut adalah saya, Fajar Budi Suryawan.

Beberapa hari setelah itu, saya pun merasa agak putus harap, kok tidak ada yang menghubungi saya ya.. Tibalah kemudian suatu saat ketika saya pulang sekolah ibu saya memberi tahu kalo tadi ada yang nyariin lewat Hp ayah ane.. maklum saat itu belum punya hp sendiri jadi no contact personnya saya kasih nomer ayah saya. Beliau bilang dari stafnya menpora, dan lalu beliau pun menginterogasi saya. Dan saya ceritakan sebagaimana telah terjadi.

Malamnya, saya pun berharap-harap cemas akan ada telepon lagi. Ternyata benar, ada telpon lagi dan benar-benar dari staffnya Mennegpora, dan mengundang saya ke Jakarta!!!! Untuk acara penyerahan hadiah… Subhanallah, Allahu Akbar, saya tidak bisa menceritakan saat2 itu lebih detail, tak mampu terlukis hanya dengan sebuah rangkaian untaian kata..

Ternyata, saya bisa menulis…, sungguh kejadian tersebut merupakan emosi positif yang sangat membantu saya untuk terus menulis terutama di saat-saat susah seperti ini(selama mahasiswa,tulisannya belum ada yang tembus,g papa lah, yang penting terus menulis,semoga bisa segera tembus, meski hanya dimuat koran lokal,hehehehe), Kejadian tersebut juga merupakan titik tolak penghapus segala trauma. Sungguh nikmat yang besar, Trimakasih ya Allah…

Aug
11
harusya fajar budi suryawan

harusya fajar budi suryawan

Maaf agak narsis, saya sekedar ingin berbagi tentang emosi positif yang pernah saya dapatkan suatu kali yang sampai sekarang ini telah mendorong saya untuk terus menulis dan menulis.

Masih segar dalam ingatan saya,It’s a blatant memory, bahwasanya dulu ketika SD, ujian bahasa Indonesia dan bahasa Jawa menjadi ujian yang paling saya benci. Kenapa coba? Karena pada kedua ujian tersebut terdapat ujian mengarangnya..hehehe.

Dan sudah jadi langganan nilai2-nilai saya pada dua pelajaran tersebut jatuh karena mengarangnya mendapatkan nilai yang lebih jelek dari teman-teman saya yang lain. Terlebih lagi, tulisan tangan saya bentuknya saja sudah membuat orang-orang enggan untuk membacanya lebih jauh, cekeran pithik, ya itulah julukan yang disematkan guru saya waktu itu pada bentuk tulisan tangan saya. Bahkan suatu kali, THB(Tes Hasil Belajar,UAS nya jaman dulu lah!) saya pada pelajaran PPKN gagal mendapat nilai 100(saya diberi nilai nilai 99-t) hanya karena tulisan saya jelek,padahal jawaban saya saat itu benar semua. Sebuah jawaban yang sangat tidak masuk akal anggap saya ketika itu.

Begitu juga pada SLTP, pelajaran yang ada mengarangnya selalu menjadi keengganan bagi saya. Bahkan saat itu saya dan beberapa rekan sekelas saya membentuk GTJ(gankz tulisan jelek) sebagai wujud protes terhadap guru yang memberi PR kepada murid-muridnya dan mendasarkan penilaiannya terhadap bagus tidak bentuk tulisannya.

Tapi akhirnya saya kini menyadari satu alasan kuat kenapa tulisan tangan saya tidak begitu bagus bentuknya.

Ehm,, rupa-rupanya tangan saya cukup keteteran dalam mengejar kecepatan berpikir otak saya sehingga menulisnya sampai terseok-seok,hehehehehe

Sebuah karunia yang sungguh tak terkira,

Maaf jadi menelenceng,,,heheheKembali ke pokok cerita awal, sekumpulan kenangan buruk tentang dunia kepenulisan saya tersebut akhirnya cukup mendoktrin saya dengan doktrin yang kurang baik bahwasanya saya kurang punya keahlian dalam menulis.

Dan doktrin yang belum teruji secara metodologi tersebut terus menggelayuti saya sampai SMA. Sampai pada suatu ketika….

Aug
11

“Sebuah kegilaan adalah apabila kita melakukan sesuatu yang sama persis dengan mengharapkan hasil yang lebih baik(hasil yang berbeda)”

Sepenggelan kalimat tersebut telah kembali menyadarkan saya. Ternyata selama ini saya telah banyak melakukan suatu kegilaan yang tanpa sadari saya lakukan. Berharap senantiasa akan hasil yang jauh lebih baik tanpa mengintstropeksi dan mengevaluasi apa-apa yang telah dilakukan.

Berkali-kali saya selalu ingin menjadi orang yang lebih baik tanpa melakukan sebuah perubahan yang berarti ke arah hal tersebut dengan tentunya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik.

Just Saying, “Better man”, tak akan merubah apapun tanpa berusaha melakukan perubahan..

Semoga mulai ini bisa berbenah untuk tidak melakukan kegilaan serupa.

”Dan Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mau merubah keadaan dirinya sendiri terlebih dahulu”

Aug
05
bis

bis

Ketika jalan-jalan di UI beberapa waktu yang lalu berbekal dengan kamera Sony kesayangan di tangan, saya mendapatkan kejadian yang cukup menarik untuk saya abadikan.

Sebelumnya, saya minta maaf dulu pada teman-teman saya yang ada di Bandung, terutama rekan-rekan di I*B. Maaf sekali saya harus memasang foto yang sedikit gimana… gitu. Tenang…. I’ll clarify this….

Saya juga mau mengucapkan terima kasih pada rekan2 institut tersebut atas tumpangannya dengan bis yang kebetulan saya potret tersebut sehingga tour de UGM-UI-ITB saya berjalan dengan cukup lancar.

Rasanya tidak perlu saya diskripsikan lagi gambar tersebut, temen-temen langsung amati saja…hohohho

Sebenarnya kejadian sebenarnya mungkin tidak sesuai dengan yang teman-teman bayangkan.

Jadi begini,,, Waktu itu, bis2 suporter lomba KRI-KRCI memang sengaja di kumpulkan di satu tempat, ada juga bis UGM,UNY, dll. Dan bis mereka pun juga parkir di sampingnya bis yang saya potret tersebut,tapi bedanya agak jauh dari plat nakal tsb.. hehehe. Jadi ga ada bawa-bawa nglanggar peraturan segala.

Maksud saya nampang tuh foto ya buat jadi pelajaran bagi kita, kalo parkir mending liat2 sikon dulu, n carilah tempat yang tidak menimbulkan kontroversi di belakang,hihihihi, karena bisa saja ada tangan2 jahil seperti ini. Ato kemudian bisa berkompromi dulu dengan pak parkirnya supaya g deket2 ma plat2 nakal kayak gitu….hehe…

Jul
23

Hari itu Senin 21 Juli 2008, saya mendapatkan ilmu dan paradigma baru tentang Pe-De. Saat itu sedang ada training pertama untuk Pemandu INFANTRI(Inisiasi Fakultas Teknik untuk Negri) , MOS-nya anak teknik UGM dan kebetulan saat itu Mas Fatan Funtastic sedikit membeberkan rahasia tentang tingkatan-tingkatan kepedean seseorang. Mau tau? Ini dia….

Kita mulai dari yang paling cupu dulu aja ya…..

Yang paling cupu tu adalah kita Pe-De karena kita punya sesuatu hal yang kita anggap berharga. Hohohoho…. Ini adalah Pe-de yang paling mudah. Contohnya adalah hp kita model terbaru, trus kita jadi PD, laptop kita bagus trus jadi PD, kita punya kendaraan yang juga Ok punya, n lalu kita juga jadi PD. Bagi yang merasa masih minder, mungkin bisa dimulai dari tingkatan Pede yang paling cupu ini hehehe.. Tapi kalo kita nurutin nih PD bisa-bisa berat diongkos lho! Suerrrr.

Tingkatan PD setelah yang paling cupu atau dengan kata lain tingkatan PD yang nomor dua adalah PD kalo orang lain g punya sesuatu yang kita punyai. Contohnya seperti ini, maaf agak ekstrim, kita punya dua buah tangan, sementara mungkin ada orag lain yang kurang seberuntung kita. Jahat ya, PD karena seperti itu, namanya juga masih PD dalam tingkatan yang rendah, jadi ya maklumlah….

PD tingkat yag ketiga mirip dengan PD yang sebelumnya yaitu, PD kalo kita punya suatu kelebihan kemampuan dalam suatu bidang yang mungkin orang lain g punya. Umpamanya seperti ini, A kuliah di UGM, sedang temannya gagal dalam ikut UM-UGM, dan dia pun lantas PD. Intinya, ketiga PD tingkatan dasar ini bisa dikatakan PD yang cukup “jahat”.

PD pada tingkatan ke-4 ini merupakan PD yang sudah lumayan beradab, yaitu kita PD karena kita memiliki kelebihan dan juga kekurangan. PD ini merupakan penyadaran akan diri bahwa tiap manusia itu pasti puya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, kenapa harus minder?…

Nah, menurut mas Fatan lagi, tingkatan PD yang paling tinggi adalah PD karena kita telah benar-benar memahami visi & misi hidup kita. Ibaratnya no matter what they say, there I am. Artinya tiap tindakan kita walaupun itu aneh dan cupu di mata orang lain asalkan tidak melanggar aturankita harus tetap PD, kalau itu merupakan mozaik yang harus kita dapatkan dan jalankan untuk meraih kesuksesan hidup. Sekian….

Jul
20

“Life is choice”

Hidup itu pilihan, ya begitulah hidup. Kalau kita tidak mau memilih ya tidak usah hidup saja. Bahkan untuk tetap bertahan untuk menjalani hidup saja juga merupakan sebuah pilihan. Ya kan?

Memilih itu untuk banyak hal, urusan jodoh, pekerjaan, studi, bahkan untuk makan esuk hari saja juga merupakan pilihan. Dan tentunya bagi orang-orang yang cerdas dan berakal, pastilah mereka akan memilih pilihan yang mana paling baik, bahkan apabila dihadapkan akan dua pilihan yang sama-sama kurang baik, dia pasti memilih salah satu yang mana tingkat kejelekannya paling rendah.

Uraian di atas bukannya tanpa maksud, sengaja saya mengutarakan hal tersebut untuk suatu alasan yang sangat kuat. Maaf bila pembicaraan saya sesudah ini mungkin bagi beberapa kalangan agak tabu, sok tahu, ato bagaimanalah terserah, saya kembalikan pada temen-temen sekalian yang membaca. Sekali lagi bahwa ini adalah pendapat saya pribadi, orang yang sedang belajar, sehingga kalau banyak yang salah mohon untuk diluruskan dan dibenarkan. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya tentang bagaimana jikalau harus memilih.

Mungkin masih tersisa 6 bulan lagi sebelum senja terakhir 2008 sirna. Tapi sungguh, ini bukanlah waktu yang singkat untuk menentukan sebuah perjalanan hidup dari suatu bangsa. Segala sesuatunya harus diperhatikan dan dipertimbangkan dengan seksama. Mungkin, beberapa dari teman-teman mulai sadar kemana arah pembicaraan kita mengarah. Ya Pemilu 2009, itulah yang ingin saya angkat.

Sebenarnya saya sendiri kurang setuju dengan metode pemilihan pemimpin bangsa ini, kenapa tidak? Karena dalam sistem yang selama ini kita anut, apabila negri ini terdiri dari 10 kyai dan 11 maling, maka selalu saja para maling yang benar. Suara terbanyak, ya itulah letak ketidak setujuan saya. Selain dari permasalahan tersebut, pada system pemilihan ini, satu suara dari seorang professor yang sudah pakar dianggap sama degan orang yang bahkan dia tidak bersekolah sama sekali. Betapa mirisnya hal tersebut, tapi itulah kenyataannya.

Kenyataannya memang sangat bagus apabila pemilihan pemimpin bangsa ini dipilih dengan musyawarah mufakat. Tapi Urgensi kepentingan pribadi para wakil di negri ini masih sangat tinggi sekali sehingga cara yang amat bagus ini ternyata tak bisa berjalan dengan baik. Mau tidak mau untuk saat ini kita “terpaksa” mengikut system yang sudah ada sekarang.

Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, yang ingin saya angkat di sini adalah bagaimana atau apa yang harus kita lakukan apabila kita harus memilih. Biasanya orang memilih untuk sesuatu yang dia sukai, seperti untuk urusan jodoh misalnya, pastilah seseorang tersebut memilih jodoh karena dia menyukai kekasihnya tersebut, tentunya terlepas dari atas alasan apa dia mencintai jodohnya tersebut yang tentunya tidak perlu saya jelaskan di sini.

Sekarang permasalahannya adalah apabila ternyata kita dihadapkan untuk memilih pada opsi yang ternyata kita tidak menyukainya atau lebih halusnya kita kurang menyukai opsi-opsi yang ada. Kejadian inilah yang sangat mungkin terjadi pada Pemilu besuk. Bisa jadi kita merasa bahwa partai-partai(terlepas kita setuju atau tidak adanya partai) yang ada sekarang tidak ada satupun yang match dengan pendapat atau pandangan kita. Lantas kemudian, apakah kita harus tetap memilih?

Menurut saya ya! Kenapa? Karena kita masih hidup. Life is choice..

Tapi ingat, sebenarnya tidak memilih satupun partai sebenarnya juga merupakan pilihan. Meskipun begitu, apakah hal tersebut baik? Urusan baik atau tidak saya serahkan saja pada pembaca sekalian. Yang jelas dengan kita tidak memilih, sama saja kita pasrah pada keadaan, karena apa? Sudah barang tentu ada orang lain yang memilih. Dan apabila kita menginginkan perubahan yang lebih baik dengan jalan yang tidak memilih dalam pemilu saya rasa itu omong kosong untuk saat ini. Dengan tidak memilih, ibaratnya kita sudah memasrahkan nasib negri ini pada orang lain yang memilih. Ya tidak? Mending kalo ternyata pilihan orang-orang tersebut semuanya baik. Pertanyaannya, bagaimana jika tidak? Tentunya kita turut memberi andil dalam bobokroknya dan tidak maju-majunya negeri ini. Apa bila kenyataannya semua opsi pilihan buruk semua, toh kita bisa memilih yang paling tidak buruk, tapi saya yakin, pasti ada juga yang baik. Dan semoga Pemilu besuk tidak menjadi ajang perpecahan diantara kita.

Mari kita bangkit, karena Harapan itu masih ada….