“A man Named Fajar!”
Bukan sekedar mahasiswa biasa

Seutas kisah di “Kota Utara Jawa III”

Hari ini adalah hari kedua saya diSemarang. Setelah menikmati sarapan gratis nan enak dari omnya teman saya, segera saya bergegas untuk surve.

Nah, pada hari kedua ini mulai muncul masalah-masalah yang cukup merepotkan dan menjengkelkan saya. Dalam daftar alamat yang harus disurve, tercantum didalamnya golongan listrik dengan kategori bisnis dan beberapa rumah tangga dengan beban maksimum >2200 kVA. Nah pemiliknya biasanya orang yang cukup berpunya, jumlahnya pun tak banyak, sehingga alternatifnya pun cukup sedikit. Jengkelnya setelah dengan bersusah payah menemukan alamat yang langka tersebut, ternyata yang punya rumah tidak tinggal disitu, tapi di tempat lain yang jauh.., ada juga yang ternyata dah pindah rumah, baru pergi, dll. Wah, benar-benar menguras kesabaran. Tapi untungnya hari ini 13 responden berhasil didapat.

Satu hal yang cukup berkesan pada hari ini adalah, ketika saya tak kunjung mendapatkan informan untuk surve pada hari ini karena alasan tersebut di atas, saya mencoba untuk segera memenuhi panggilan-Nya. Ajaibnya begitu saya menunaikan ibadah dan memohon kepada-Nya dengan segala kepasrahan, ternyata langsung ketemu pak takmir masjidnya yang kebetulan juga informan yang sedang saya cari-cari,,, subhanallah….

Tersisa 7 responden sisa. Secara teori pastinya jauh lebih mudah untuk pekerjaan esok hari(jum’at). Tapi, 7 responden tersisa merupakan responden yang langka, yaitu responden pasang rekening baru dan responden rubah daya, dua kasus yang jarang ditemukan dan pilihan responden yang minim. Selain itu lokasi respondennya mengelompok di daerah sumurboto(kawasan Semarang tapi agak selatan), dekat dengan UNDIP, padahal pesantren yang saya tinggali berada di Semarang Tengah, jarak keduanya cukup jauh. Jadi lebih enak kalo kesana sekalian pulang, sehingga tidak perlu lagi mbalek ke utara.

Akhirnya, saya ambil keputusan,, malam ini saya kembali bermalam di pesantren saja sekalian pamitan, karena malam besuk saya ingin bermalam di Jogja(pulang red) saja…. Akhirnya sekali lagi saya kembali ke pesantren. Dan di pesantren, karena haus dan kondisi keuangan menipis, saya kemudian meminta minum kepada mas yang di pesantren.

”Mas, kalau minta air putih boleh nggak?” ujarku.

“ Oh boleh mas, tinggal puter kran aja,di sini adanya Cuma itu e..”sahut si Masnya

Ohok2….. bagaimana saya tidak tertohok mendengar jawabannya. Saya jadi merasa bersalah dan segera langsung meminta maaf. Dunia memang luas..Kalau kita mau menjelajahinya,,

Daripada terus merasa bersalah, akhirnya saya segera minta diri mau jalan-jalan. Di jalan saya lapar, karena masalah klasik dompet menipis, saya berpikiran untuk makan di angkringan saja. Di sana pun rencananya Cuma pingin beli nasi kucing 2 biji aja n air putih,, hehe. Tapi karena nggak enak sama penjualnya ya sudah 2 nasi kucing dan segelas es teh tampaknya cukup layak. Kalo lauk kebetulan ibu saya membawakan abon buat jaga-jaga. Segelas teh tersebut Cuma sebagai “kedok” saja, karena setelah itu saya meminta masnya tambah air putih cuku banyak(gratis) hehehe.

Setelah itu saya pun kembali ke pesantren. Meskipun besuk tinggal 7 responden, perasaan khawatir semakin menjadi-jadi. 7 responden sisa ini merupakan responden yang sangat sedikit dan kecenderungan adalah orang berduit. Orang yang berduit ini sangat sulit ditemui, pengalaman pada hari pertama dan kedua yang membuat saya sedemikian khawatir karena 23 responden yang sudah saya dapatkan adalah responden yang kebanyakan “wong cilik” sehingga mudah ditemui. Sedangkan yang 7 responden sisa pada dua hari tersebut sangat sulit sekali ditemui dan itu pun juga jadi bahan rebutan surveyor-surveyor lain.

Malam pun berlalu, pagi pun menjelang,,Jum’at sekitar pukul 6 setelah perpisahan dengan pak kyai dan pesantrennya yang disertai cucuran air mata(lebay mode : on), motor pun segera diberangkatkan. Perjalanan ini rasanya menyenangkan, terasa lebih ringan, logistic surve sudah hamper habis. It has to be nice ending in Semarang.

Sampai menjelang pukl 7, ¾ perjalanan menuju kawasan sumur boto sudah dilalui, so far so good… Tak berapa lama, ketika di tanjakan jalan setia budi, masalah pun muncul, motor terasa aneh,, berjalan dengan tidak biasa. Setelah berhenti dan dicek…

“Oh my god”

Roda belakang motorku,,, “Oh No….” sobek….

Cemas dan Bingung, duduk dan berpikir.. Setelah kepanikan berkurang segera kucari bengkel. Tapi dimana? Ini bukan di Jogja Bro… Haduh, nasib anak perantauan kayaknya g’ separah ini deh.. Akhirnya, daripada berpikir terlalu lama, kutelusuri jalanan menanjak yang cukup ramai itu dengan berjalan kaki.

Baru sekitar 5 menit melangkah, Baru 5 menit merangkai asa yang telah terurai, saya terperanjat, terkaget, terdiam, termangu, dan tak mampu berkata. Bak oase ditengah gurun yang gersang, bagai pelita di kegelapan malam, ada pemandangan yang menyejukkan kalbu, menyegarkan mata, menggetarkan iman, menguatkan asa,, subhanallah..

Cantiknya…to be continued..

8 Responses to “Seutas kisah di “Kota Utara Jawa III””

  1. PERTAMAAAAXXX…….
    Sidane piye Jar?? Sida dipek mantu Pak Kyai? Hehe….

  2. cuma bisa bilang, , ,
    hahahaha

  3. oy mas, ni mita euy!
    visit my blog yep!
    masih new comer ney!hehhe

  4. “waow!”

    ternyata berbakat jd petualang juga mas fajar. bisa jd novel itu mas kisahnya.. :D

  5. “Ehm. Sepertinya mas fajar cocok jadi pemeran utama filmnya tuingprod… xixixiiii… ;) )”

  6. @ehm : ehm,,, anda bercanda,, yo ra lah,,, eh ayo gek dikerjain filmnya,,,,,


Leave a Reply