“A man Named Fajar!”
Bukan sekedar mahasiswa biasa

Seutas kisah di “kota” utara Jawa

The story begins,, akhirnya lolos juga dari seleksi surveyor KP PLN 2008,, dan diterimalah saya di Semarang,, yupz sebuah kota di utara Jawa. Ada beberapa alasan kenapa aku memilih kota ini, mulai dari pribadi(“obsesi masa depan^^”) sampai ya memang ktrimanya emang ya disitu.

Nah disinilah dimulai pergumulan hebat untuk menuntaskan misi tersebut,, survey, masa depan, dan jalan-jalan. Sesuai dengan wawancara dengan seorang dosen waktu seleksi kemaren yang menanyakan tentang tempat tinggal saya disana, saya pun akan numpang di sebuah pesantren bernama pesantren Rhoudhotul Qur’an di daerah kauman Glondong di Semarang Tengah. Sebuah pesantren yang menurut cerita ibu saya milik seorang pengusaha yang mana beliau adalah adiknya teman ibu saya di kampus.

Dan berangkatlah saya ke Semarang pada hari Selasa Sore (rencananya bis ashar) tapi karena suatu masalah tertentu saya dan seorang rekan saya baru bisa berangkat menjelang magrib. Walhasil perjalanan semalaman pun terasa cukup horror, terutama di sepanjang perjalanan begitu memasuki secang. Jalan gelap dan sepi,. Walau begitu, Alhamdulillah, sekitar pukul 22.00 sampailah saya di semarang.

Ternyata jam segitu Semarang masih ramai, dan kotanya pun tampak keren disinari cahaya-cahaya lampu jalanan, sebuah pemandangan yang menakjubkan mata saya dikala itu. Sebuah awal kesan yang menarik tentang Semarang. Begitulah, akhirnya begitu sampai di Semarang saya pun berpisah dengan teman saya tersebut karena DAOP yang berbeda. Tibalah saya sunyi sendiri kesepian di kota ini. Segera saja saya pacu shogun biru saya menuju pesantren yang saya maksud. Sekitar 20 menitan kemudian akhirnya pesantren tsb saya temukan dengan cukup mudah.

Sampai di sana, segera saya hubungi nomor yang diberikan oleh ibu saya. Tuuut….tuuuuut….tuuuut, sekilas agak lama, jadi tut..tut..tut..tut… weleh2 kok gak diangkat2 yo, akhirnya saya pun jadi merasa bersalah, jangan- jangan pemilik pesantrennya sudah tidur. Dasar kebangetennya saya,,, masa jam segini telfon pak kyai. Ya sudahlah, akhirnya saya langsung mengurungkan niat menghubungi pak kiainya. Ziiiiing.. saya bingung, mau tidur dimana ya? Akhirnya secara insting saya langsung mencari masjid. Dan Alhamdulillah di ujung jalan tempat saya berdiri ini Nampak sebuah masjid berdiri dengan agungnya. Subhanallah… Sayang seribu sayang setelah saya dekati msjid tersebut sudah terkunci rapat tanpa meninggalkan secuil celah bagi saya untuk ikut menikmati kehangatannya. Ditambah lagi ada plang bertuliskan “ dilarang Tidur di Masjid”. Wah tambah bingung nih. To be continued…..

8 Responses to “Seutas kisah di “kota” utara Jawa”

  1. Walah mesakke. Lha sidane turu ngendi kw? Neng warnet po? Klo d Jepang ktnya warnet jg disewain bwt numpang tidur (istilah yg bener apa ya?? Soalnya klo dibilang nginep enggak jg)

  2. tunggu kisah selanjutnya aja,,,hwekekekke,thanks for visiting

  3. kasian bgt…. :p
    mana terusannya?! penasaran aku….

  4. hoho,, sedang dalam proses penulisan, tunggu saja….

  5. akhirnya up date juga :D
    sidane turu nang di ja?

    http://firman.web.id

  6. Tunggu aja sekuel keduanya,,hehe

  7. Lha sekuel letiganya kpn terbit?


Leave a Reply