Sebuah Paradoks tentang Kepemudaan
Sebuah Paradoks tentang Kepemudaan
Beberapa waktu yang lalu, ada suatu keperluan di tempat seorang teman yang mengharuskan saya melakukan perjalanan membelah Jogja. Maklum, tempat tinggal saya di daerah Maguoharjo sedangkan tempat teman saya tersebut berada di daerah Pingit.
Siang itu, cuaca Kota Pendidikan itu sedang sangat tidak bersahabat bagi para pengguna sepeda motor. Sang mentari sedang beringas memancarkan teriknya, sementara awan-awan serasa enggan untuk menghias satu bagian pun dari langit. Suasana diperparah dengan traffic lalu lintas yang begitu padat. Belum lagi, hiasan warna ’kabut’ hitam dan putih dari kendaraan-kendaraan di tempat itu turut mewarnai teriknya siang itu.
Setelah melewati berbagai macam rintangan, sampailah saya di Jalan Diponegoro. Di ujung jalan inilah, kawasan Pingit berada. Walaupun begitu, masih ada satu perempatan lagi untuk sampai di rumah teman saya. Sayangnya, satu perempatan yang tersisa merupakan perempatan ’maut’ bagi kalangan pengendara sepeda motor, perempatan Pingit tepatnya. Perempatan Pingit terkenal dengan antriannya yang sangat panjang,sangat padat, dan sangat lama waktu tunggunya. Bila terjebak di perempatan ini, kesabaran lebih dituntut harus ada. Yang tak diharapkan pun menjadi kenyataan, saya terjebak dalam antrian panjang kendaraan, meskipun menggunakan sepeda motor bisa menyusup masuk, tetap saja sulit menemukan ruang kosong untuk menyelinap.
Akhirnya, dengan kesabaran yang cukup dipaksakan saya harus menunggu detik berganti detik untuk menanti bergantinya lampu merah menjadi hijau. Terlihat beberapa orang di sekitar saya mulai beringsut tak sabarkan diri. Mereka pun mulai memenuhi lajur kiri yang mana tempat tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka yang hendak belok kiri. Beberapa dari mereka juga tampak merasa kepanasan, kaca helm mereka buka lebar-lebar dan tangan mereka mulai bergerak-gerak secara reflek untuk mengipasi muka mereka.
Keadaan stagnan yang menjengkelkan pun bertahan hingga beberapa puluh detik. Sampai pada saat itu ada sebuah lantunan lagu mengejutkan saya. Sebuah lantunan lagu yang sangat familiar saat itu. Sebuah lirik lagu yang intinya orang ketahuan saat selingkuh. Namun rasanya ada yang aneh di balik suara itu. Suara itu kedengarannya masih sangat polos sekali, suara yang menunjukkan bahwa si empunya belumlah ”cukup gede”. Segera saya menoleh ke arah sumber suara itu.
Benar saja, setelah menemukan si empunya suara, saya tak lagi terkejut bahwa pelantun lagu orang dewasa tersebut memang masih bocah. Badannya kurus kering dan tubuhnya kecil. Mungkin sekitar 4-5 tahun usianya. Kulitnya coklat, bajunya kotor, beberapa bagian tubuhnya yang lain pun juga kotor. Ekspresi wajahnya masih polos meskipun dia mereka-reka mimik wajahnya. Di kakinya terpasang sebuah sandal jepit. Ditangannya tergenggam sebatang kayu pendek yang panjangnya sekitar 10-15 cm, di ujung kayu kecil itu tertancap beberapa tutup botol minuman ringan bekas. Di ujung kecil satunya terdapat sebuah tangan mungil yang menggenggam benda itu dengan tidak begitu kuat.
Miris hati ini rasanya. Benar-benar miris. Anak itu seharusnya tidak di sini. Sama sekali tidak. Seharusnya pada jam-jam ini dia berada di rumah, bermain dengan teman sebayanya di rumah. Atau bisa juga pada jam-jam ini dia sedang di belajar untuk menuntut ilmu baik itu di playgroup ataupun di rumahnya sendiri bersama ibunya.
Anak sekecil itu telah dipaksa secara keterlaluan utuk menjadi orang dewasa jauh sebelum saatnya dia untuk dewasa, tanpa dibekali apa-apa yang seharusnya mendewasakannya dan membekalinya sebelum dewasa. Hal yang sangat kontradiktif terjadi di lain pihak. Para pemuda di negri ni yang seharusnya menjadi agent of change terus menurus di jadikan objek permasalahan, terus dikungkung dengan hal-hal yang tidak penting, bahkan sangat tidak penting hemat saya, hedon, narkoba, hura-hura, seks bebas, dan masih banyak lagi. Perlakuan terhadap anak muda pun selalu terkesan menomor duakan para pemuda. Mereka dianggap terlalu kecil, untuk melakukan hal-hal besar. Dalam tingkatan paling kecil, RT misalnya, apakah suara pemuda-pemuda sering didengar? Memang tidak bisa digenerlisir, tapi sepertinya, itulah penampakan yang ada di negri ini. Tampaknya jargon-jargon ”yang muda yang berbicara” harus mulai direalisasikan.
Kalo masa anak-anak yang seharusnya digunakan untuk belajar dan mengeksplor dunia seoptimal mungkin malah digunakan untuk ”bekerja” sementara masa-masa muda yang sehaeusnya mulai digunakan untuk ”berkontribusi”malah disibukkan dengan hal-hal yang ”sangat tidak penting” bagaimana nasibnya pemuda dan bangsa ini.
Masih tercatat dalam sejarah bangsa ini, hampir semua revolusi selalu melibatkan pemuda,reformasi, kemerdekaan, kebangkitan nasional, hingga perjuangan pra kemerdekan.
Bung Tomo misalnya, beliau sudah memimpin pejuangan perang di Surabaya pada usia 25 tahun. Ibu kita kartini misalnya,beliau meninggal dengan usia tidak lebih dari 25 tahun. Dan Pak Dirman, mulai memimpin gerilya masuk-masuk ke Hutan pada usia 29 tahun. Coba sekarang kita sama-sama lihat usia kita. Kira-kira apakah pada usia itu kita bisa melakuka hal yang sama atau bahkan lebih?
Contoh ekstrim lagi yang lebih menakjubkan tercatat dalam sejarah peradaban Islam. Lihatlah sosok Muhammad Fatih, yang usianya baru belasan(maaf lupa kayake sekitar 17 mpe 19)sudah bisa memimpin penaklukan konstantinopel, dan menang. Ibnu Abbas(namane cukup terkenal lho sebagai alim ulama dia tu murid Rasulullah) bahkan pada usia 17 tahun sudah mulai dijadikan rujukan. Bandingkan dengan kita dan kondisi pemuda di sini. Tentunya pencetakan kader-kader seperti itu juga dipengaruhi oleh perlakuan terhadap mereka mulai dari sebelum lahir sampai menginjak dewasa.
Dapatkah negri ini mencetak kader-kader seperti itu bilamana masa kecil calon pemuda bangsa ini ”dipaksa turun ke jalan” sementara masa mudanya selalu ”dijadikan objek permasalahan”? Secara logis, saya berani bilang ,Tidak!! Not at all!! Bagaimana nasib bangsa ini beberapa puluh tahun lagi bila hal-hal semacam ini merajalela!!?
Oleh karena itu, mari kita berubah, dari kita, untuk Indonesia. Mulai dari diri sendiri, mulai dari bagaimana kita mencoba menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Loading...
Pemuda adalah penggerak peradaban. Itu yang seharusnya terjadi. Lihat AC Milan. Musim 2007/2008 banyak pemainnya sudah uzur, berumur 30 tahun ke atas. Apa yang mereka dapatkan ? Posisi 5 di akhir liga yang artinya tidak lolos liga champion. Sekarang coba kita lihat tim lain yang dipenuhi pemain muda, yaitu arsenal. Meskipun akhirnya lepas, mereka sempat menggenggam tampuk kepemimpinan klasemen dengan cukup lama. Kita lihat apa yang jadi faktor hancurnya performa arsenal. Faktor yang paling mencolok tentu saja adalah ketidakharmonisan dalam tim dan saling bentrok antara pemain muda. Selain itu para pemain muda juga tidak menerima gallas dijadikan kapten mereka. Dari sini dapat kita simpulkan satu kelemahan pemuda, yaitu emosi yang labil. Di suatu waktu pemuda bisa sangat tenang dan menyikapi sesuatu dengan berpikir logis dan realistis. Namun, di waktu lain, pemuda juga bisa meluapkan emosinya dengan cara-cara yang terkadang kurang atau tidak berperikemanusiaan. Ambil contoh kasus yang baru-baru ini terjadi, yaitu pemukulan seorang oknum polisi oleh mahasiswa Unas sebagai aksi balas dendam mereka atas masuknya polisi ke kampus mereka. Ini yang harus kita, sebagai pemuda, perhatikan dan sikapi dengan benar agar tidak terjadi hal-hal negatif seperti contoh Arsenal dan mahasiswa Unas tadi.
Sony Haryo Prabowo - May 30, 2008 at 4:47 pm
setuju dengan sony. lihatlah tim nankatsu….. hebat!!!! bola adalah teman
arif - May 31, 2008 at 1:07 am
keliatane saya kenal dengan temanmu yang rumahnya di pingit
hmm, benar2 keterlaluan .. STOP penjajahan hak anak!
btw, anak kecilnya dikasih receh ga tuh?! he he he …
dafitawon - June 2, 2008 at 6:03 pm
Iya, nampaknya saya juga kenal dengan temanmu yang di pingit itu. Hihihihihi. Wong aneh.
Saya, umur 19 tahun… wis angkat senjata lho, tembak-tembakan
YoHang 07 - June 6, 2008 at 1:08 am
buat mas arif : mas,maksude bola adalah teman apa ya? hehe, kayake rada2 oot.
Anyway, thanks for commenting
fajarbs - June 7, 2008 at 10:02 am
buat mas yohang n firman : tebakan kalian tepat sekali,hehe,
khusus untuk mas yoga : cuma”diangkat” to mas?;-)
fajarbs - June 7, 2008 at 10:11 am
bola adalah teman ki mottone tsubasa. r tw ntn y.
ho o ki. aq ktoke y ngrti kancamu sing omahe pingit.
Sony Haryo Prabowo - June 8, 2008 at 10:25 pm
maksude with this thread, what’s the connect?(sori inggris logat indonesia,hehehe)
fajarbs - June 9, 2008 at 11:16 am
Lebih baik tim tu ada pemain tua & mudanya. Biar rata gt. Contoh lah MU. Menang Liga Inggris & Liga Champion kan….
darwinho - June 15, 2008 at 12:28 pm
pemuda !!! hidup pemuda !!! hidup menteri kepemudaan !!! lho ?? hah !!!
alhamdulillah kita smua diberi ksempatan, kecerdasan, dan ilmu utk menjadi lbh baik,,,, SEMANGKA !!!!!!!
mad - June 25, 2008 at 12:56 pm
ehm, masih bagus inter ma liverpool dong
“you’ll never walk alone!!!”
fajarbs - July 27, 2008 at 10:50 pm
Pingit memang JAHAT!! jangan mau dipingit!!
visit :http://luqmantifaperwira.wordpress.com/ could be better
luqmantifaperwira - July 28, 2008 at 7:53 am
ya iyalah,,
ehm kita kan yang “me-Mingit”
hihihihi
fajarbs - July 30, 2008 at 11:13 pm