Sepanjang Bandung Sampai Jogja
Huf…, yupz hari itu senin 16 Juni 2008, hari terakhirku di kota Kembang. Entah kenapa kota tersebut disebut kota Kembang, sebenarnya aku juga tak begitu tahu. Barangkali mungkin karena di kota ini banyak “kembang”-nya, jadilah dia disebut kota kembang. Sebuah analogi yang cukup masuk akal.
Aku baru tinggal di kota ini baru selama satu hari satu malam, tapi karena jadwal responsi sudah menunggu, mau tidak mau aku harus kembali ke Jogja Senin Malam itu. Walaupun cukup singkat, ada beberapa hal yang aku dapatkan di kota ini. Sempat juga jalan-jalan ke kampus impianku dulu, tapi tidak untuk sekarang.
Bersama seorang sahabat perjuangan, Mas Arif Rohman, aku kembali ke Jogja dengan menggunakan kereta ekonomi kahuripan. Karena kami datang agak terlambat, habis sudahlah tiket duduk yang dijual. Kami akhirnya terpaksa harus berbesar hati untuk tidak duduk sampai ada penumpang yang turun.
Begitu kereta beranjak berjalan, saya dan Mas Arif segera bergerilya me-Ngecim target penumpang yang sudah duduk, berharap tujuan mereka tidak terlalu jauh. Satu persatu secara bergantian penumpang demi penumpang kami tanyai. Solo, Jogja, Solo, Klaten, dan Gombong serentetan jawaban tersebut yang ternyata muncul. Fyuhh,, sempat terlintas dalam benak kami, mungkin takdir kami berdiri semalaman sepanjang perjalanan. Hanya gombong yang terdekat, itu pun kira-kira masih 6- 8 jam perjalanan. Setelah hampir putus asa, harapan itu muncul, ada seseorang mengatakan bahwa di gerbong depan ternyata ada tempat kosong. Benar saja, saya dan mas Arif pun akhirnya mencoba tempat itu dan mendapatkan tempat duduk.
Setelah duduk, kami pun segera bisa bernapas agak lega. Seperti inilah wujud kereta ekonomi di Negri ini tercinta, meskipun sudah duduk, masih ada yang senggol sana dan senggol sini, apalagi kalo bukan karena penjaja makanan yang datang silih berganti dengan jualannya yang memenuhi jalan. Karena capek, akhirnya aku pun tertidur.
Sekitar dini hari aku pun terbangun dan susah untuk kembali terlelap. Saat itu sayup-sayup masih terdengar suara penjaja makanan tak kenal lelah, dan tek kenal menyerah berjalan hilir mudik dari depan ke belakang kembali lagi ke depan dengan masih saja menjajakan jualannya, meskipun gerbong saat itu menjadi lebih penuh karena beberapa penumpang tambahan yang naik dari stasiun-stasiun transit.
Akhirnya trenyuh juga aku melihatnya, mereka benar-benar tidak kenal menyerah, benar-benar sebuah perjuangan hidup!!! Bayangkan, sepanjang malam terus berjalan, memikul barang dagangan yang tidak ringan, melewati orang-orang yang bergeletakan di sepanjang lorong kereta,, Busyeeeet!!!! Subhanallah, Karen BO!!! Meskipun sebenarnya kasian juga penumpang yang bergeletakan di langkahi begitu saja, disenggal-senggol dan yah bisa dibayangkan sendiri lah..Ingin ku membeli sesuatu,, tapi tadi juga barusan makan nasi goreng yang dijual pihak kereta api,, kantong juga semakin menipis akhirnya kuputuskan untuk tidak membeli satupun,yah mau gimana lagi…
Akhirnya sekitar pukul lima kereta sampai di Jogja, Hebat juga pikirku, keretanya on-time lho!!. Dan kemudian saya dan Mas Arif pulang ke tempat tujuan masing-masing, saya ke rumah dan Mas Arif ke kos. Akhirnya berakhir sudah perjalanan saya sampai di sini.
