Hari ini adalah hari kedua saya diSemarang. Setelah menikmati sarapan gratis nan enak dari omnya teman saya, segera saya bergegas untuk surve.
Nah, pada hari kedua ini mulai muncul masalah-masalah yang cukup merepotkan dan menjengkelkan saya. Dalam daftar alamat yang harus disurve, tercantum didalamnya golongan listrik dengan kategori bisnis dan beberapa rumah tangga dengan beban maksimum >2200 kVA. Nah pemiliknya biasanya orang yang cukup berpunya, jumlahnya pun tak banyak, sehingga alternatifnya pun cukup sedikit. Jengkelnya setelah dengan bersusah payah menemukan alamat yang langka tersebut, ternyata yang punya rumah tidak tinggal disitu, tapi di tempat lain yang jauh.., ada juga yang ternyata dah pindah rumah, baru pergi, dll. Wah, benar-benar menguras kesabaran. Tapi untungnya hari ini 13 responden berhasil didapat.
Satu hal yang cukup berkesan pada hari ini adalah, ketika saya tak kunjung mendapatkan informan untuk surve pada hari ini karena alasan tersebut di atas, saya mencoba untuk segera memenuhi panggilan-Nya. Ajaibnya begitu saya menunaikan ibadah dan memohon kepada-Nya dengan segala kepasrahan, ternyata langsung ketemu pak takmir masjidnya yang kebetulan juga informan yang sedang saya cari-cari,,, subhanallah….
Tersisa 7 responden sisa. Secara teori pastinya jauh lebih mudah untuk pekerjaan esok hari(jum’at). Tapi, 7 responden tersisa merupakan responden yang langka, yaitu responden pasang rekening baru dan responden rubah daya, dua kasus yang jarang ditemukan dan pilihan responden yang minim. Selain itu lokasi respondennya mengelompok di daerah sumurboto(kawasan Semarang tapi agak selatan), dekat dengan UNDIP, padahal pesantren yang saya tinggali berada di Semarang Tengah, jarak keduanya cukup jauh. Jadi lebih enak kalo kesana sekalian pulang, sehingga tidak perlu lagi mbalek ke utara.
Akhirnya, saya ambil keputusan,, malam ini saya kembali bermalam di pesantren saja sekalian pamitan, karena malam besuk saya ingin bermalam di Jogja(pulang red) saja…. Akhirnya sekali lagi saya kembali ke pesantren. Dan di pesantren, karena haus dan kondisi keuangan menipis, saya kemudian meminta minum kepada mas yang di pesantren.
”Mas, kalau minta air putih boleh nggak?” ujarku.
“ Oh boleh mas, tinggal puter kran aja,di sini adanya Cuma itu e..”sahut si Masnya Read the rest of this entry »