“A man Named Fajar!”
Bukan sekedar mahasiswa biasa

Jun
26

Huf…, yupz hari itu senin 16 Juni 2008, hari terakhirku di kota Kembang. Entah kenapa kota tersebut disebut kota Kembang, sebenarnya aku juga tak begitu tahu. Barangkali mungkin karena di kota ini banyak “kembang”-nya, jadilah dia disebut kota kembang. Sebuah analogi yang cukup masuk akal.

Aku baru tinggal di kota ini baru selama satu hari satu malam, tapi karena jadwal responsi sudah menunggu, mau tidak mau aku harus kembali ke Jogja Senin Malam itu. Walaupun cukup singkat, ada beberapa hal yang aku dapatkan di kota ini. Sempat juga jalan-jalan ke kampus impianku dulu, tapi tidak untuk sekarang.

Bersama seorang sahabat perjuangan, Mas Arif Rohman, aku kembali ke Jogja dengan menggunakan kereta ekonomi kahuripan. Karena kami datang agak terlambat, habis sudahlah tiket duduk yang dijual. Kami akhirnya terpaksa harus berbesar hati untuk tidak duduk sampai ada penumpang yang turun.

Begitu kereta beranjak berjalan, saya dan Mas Arif segera bergerilya me-Ngecim target penumpang yang sudah duduk, berharap tujuan mereka tidak terlalu jauh. Satu persatu secara bergantian penumpang demi penumpang kami tanyai. Solo, Jogja, Solo, Klaten, dan Gombong serentetan jawaban tersebut yang ternyata muncul. Fyuhh,, sempat terlintas dalam benak kami, mungkin takdir kami berdiri semalaman sepanjang perjalanan. Hanya gombong yang terdekat, itu pun kira-kira masih 6- 8 jam perjalanan. Setelah hampir putus asa, harapan itu muncul, ada seseorang mengatakan bahwa di gerbong depan ternyata ada tempat kosong. Benar saja, saya dan mas Arif pun akhirnya mencoba tempat itu dan mendapatkan tempat duduk.

Setelah duduk, kami pun segera bisa bernapas agak lega. Seperti inilah wujud kereta ekonomi di Negri ini tercinta, meskipun sudah duduk, masih ada yang senggol sana dan senggol sini, apalagi kalo bukan karena penjaja makanan yang datang silih berganti dengan jualannya yang memenuhi jalan. Karena capek, akhirnya aku pun tertidur.

Sekitar dini hari aku pun terbangun dan susah untuk kembali terlelap. Saat itu sayup-sayup masih terdengar suara penjaja makanan tak kenal lelah, dan tek kenal menyerah berjalan hilir mudik dari depan ke belakang kembali lagi ke depan dengan masih saja menjajakan jualannya, meskipun gerbong saat itu menjadi lebih penuh karena beberapa penumpang tambahan yang naik dari stasiun-stasiun transit.

Akhirnya trenyuh juga aku melihatnya, mereka benar-benar tidak kenal menyerah, benar-benar sebuah perjuangan hidup!!! Bayangkan, sepanjang malam terus berjalan, memikul barang dagangan yang tidak ringan, melewati orang-orang yang bergeletakan di sepanjang lorong kereta,, Busyeeeet!!!! Subhanallah, Karen BO!!! Meskipun sebenarnya kasian juga penumpang yang bergeletakan di langkahi begitu saja, disenggal-senggol dan yah bisa dibayangkan sendiri lah..Ingin ku membeli sesuatu,, tapi tadi juga barusan makan nasi goreng yang dijual pihak kereta api,, kantong juga semakin menipis akhirnya kuputuskan untuk tidak membeli satupun,yah mau gimana lagi…

Akhirnya sekitar pukul lima kereta sampai di Jogja, Hebat juga pikirku, keretanya on-time lho!!. Dan kemudian saya dan Mas Arif pulang ke tempat tujuan masing-masing, saya ke rumah dan Mas Arif ke kos. Akhirnya berakhir sudah perjalanan saya sampai di sini.

Jun
06

Huff, akhirnya ujian itu selesei juga, Jum’at 6 Juni 2008,08.00 WIB, menjadi saksi kecerobohanku, hiks2…. Karena salah membaca pengumuman jadwal ujian, aku telat ujian hampir 30 menit. Padahal lebih dari itu aku tidak bakalan diijinkan masuk.

Tapi, Alhamdulillah, Allah menunjukkan kebesarannya,

aku merasa diberi kemudahan oleh-Nya sehingga waktu 1 jam yang tersisa dapat kugunakan dengan sangat baik untuk menyeleseikan soal2 Ujian telekomunikasi. Aku pun juga bersyukur karena masih diijinkan masuk kelas.Thank you Allah, Thank you Allah.

Sekarang tinggal menunggu hasil, semoga mendapat A.. Aamiin. Pengalaman yang sangat berharga, harus diambil pelajarannya, tak boleh mengulang kesalahan yang sama.

May
30

Sebuah Paradoks tentang Kepemudaan

Beberapa waktu yang lalu, ada suatu keperluan di tempat seorang teman yang mengharuskan saya melakukan perjalanan membelah Jogja. Maklum, tempat tinggal saya di daerah Maguoharjo sedangkan tempat teman saya tersebut berada di daerah Pingit.

Siang itu, cuaca Kota Pendidikan itu sedang sangat tidak bersahabat bagi para pengguna sepeda motor. Sang mentari sedang beringas memancarkan teriknya, sementara awan-awan serasa enggan untuk menghias satu bagian pun dari langit. Suasana diperparah dengan traffic lalu lintas yang begitu padat. Belum lagi, hiasan warna ’kabut’ hitam dan putih dari kendaraan-kendaraan di tempat itu turut mewarnai teriknya siang itu. Read the rest of this entry »

May
04

Lihat cantiknya Purnama malam ini….

Berikan keindahan pada setengah bumi

Walau permukaannya tak rapi

Tak mampu pancarkan sendiri

Tapi mampu mencipta 1000 puisi

Siapa lagi kalau bukan atas kuasa-Ilahi

Yah, kurang lebih itulah sebuah puisi yang dikirimkan oleh seorang teman kepada saya.

Kurang jelas tendensi dia malam itu apa.., menurut hemat saya dia sedang kelebihan pulsa

karena beberapa promo pulsa murah yang menggila akhir-akhir ini.

Tapi sejenak kemudian, setelah sedikit”berkontemplasi” saya menilai puisi iseng itu dahsyat juga.

Punya makna yang cukup mendalam bagi diri saya, terutama untuk perbaikan diri.

Seorang bulan, walau dia tidak punya cahaya sendiri, tapi tetap mau berjuang untuk menerangi, bahkan bisa menciptakan keindahan bagi orang lain,meski hanya dengan merefleksi sinar dari sang mentari

Seharusnya seperti itulah semangat kita dalam berkontribusi, orang yang tidak punya saja seperti itu, bagaimana dengan kita yang telah dikarunai berbagai macam kesempurnaan?

Apr
26

Trima kasihku ku ucapkan

Pada guruku yang tulus

Ilmu yang berguna slalu di limpahkan

Untuk bekalku nanti…

Memang susah kalo segalanya hanya sebatas lisan, sulit merasakan. Begitu juga tentang penggalan syair tersebut, sulit mengena bila memang belum masuk ke hati…

Ya.. mirip seperti aku dulu. Dulu, waktu SD, membaca syair tersebut rasanya biasa-biasa saja.Bahkan, ketika disuruh menyanyikan ketika perpisahan kelas 6 pun, hampir tak ada air mata yang menetes, yah meskipun segalanya tidak selalu diukur dengan banyaknya air mata yang jatuh, tapi dari hati yang basah karenanya.

Baru sekarang rasanya aku sadar, betapa mulia dan tulus seorang guru tersebut(guru yang beneran lho!). Ceritanya begini, sebagai mahasiswa aku mencoba untuk mandiri, meskipun semuanya butuh proses. Dalam usaha ku untuk mencoba mandiri, aku berpikir keras dan akhirnya kuputuskan untuk sekarang ini yang bisa kulakukan adalah nyambi jadi guru privat.

Semula tujuanku ya mengajarkan ilmu yang diperoleh sekaligus mencari tambahan untuk mandiri. Tidak begitu memikirkan orang yang kuprivati, maksudku, terserah dia mau serius,mau dapet nilai bagus, sukses, atau sejenisnya.

Namun anehnya, semakin lama aku mengajar semakin aku ingin mentransfer semua yang kupunya supaya dia sukses. Bahkan, ketika mendengar dia lulus seleksi ujian entah kenapa hati ini juga jadi ikut trenyuh dan senang. Itulah yang kurasakan ketika jadi guru privat dadakan. Kubayangkan rasa apa yang dibayangkan guru-guruku terdahulu yang statusnya mengabdikan dirinya untuk pendidikan meskipun juga itu sebagai mata pencahariannya,

Terbayang betapa kurang ajarnya aku dulu, diajar ngomong sendiri, diberi PR tidak mengerjakan, sering bolos, masuk telat, dan yah seperti itulah, memanusiakannya sebagai mana manusia saja mungkin masih belum.

Menyesal rasanya,… Tapi sesal sekarang, mungkin belum bisa menghapus kesalahan-kesalahan itu. Buat bapak ibu guru yang mungkin mampir ke blog ini, maaf lahir batin ya pak bu,,,, hehehehe, Doakan muridmu ini selalu sukses ya! Selalu bisa berusaha dengan sebaik-baiknya, dan senantiasa diberikan kemudahan, pertolongan dan yang terbaik oleh-Nya.

Apr
26

JAngan kau kira diam ini berarti otak tak punya
JAngan kau kira diam ini tak bisa bicara
Jangan kau kira diam ini pertanda tiadanya daya

Sungguh, diam ini lebih berharga dari bualanmu yang sia-sia

Apr
11

idealisme, sang pedang bermata dua

Pemuda adalah harapan bangsa. Di tangan para pemudalah kelak tangkup kepemimpinan bangsa ini dipertaruhkan. Karena mau tidak mau yang akan memegang bangsa ini mulai 10 tahun yang akan datang adalah mereka.

Umumnya ketika memasuki masa-masa remaja, muncul jiwa-jiwa dan semangat baru dalam diri seorang pemuda. Jiwa yang ambisius, idealis, selalu ingin tahu, serta sesuatu yang dia butuhkan dan ingin dia tunjukkan guna mengaktualisasi keberadaannya. Jiwa-jiwa baru tersebut tidak bisa lantas kita kekang ataupun kita bebaskan begitu saja. Butuh suatu manajemen yang baik supaya nantinya berkembang sedemikian rupa sehingga kelak bisa memberi manfaat. Idealis adalah salah satu yang menonjol diantaranya. Read the rest of this entry »

Mar
02

Oleh Dwi Indarti

Sore setelah hujan lebat mengguyur Jakarta. Genangan air dan kemacetan sudah menjadi menu setelah hujan. Aku duduk sendiri di dalam mikrolet M 01 ke arah pasar senen. Pak sopir masih sabar menunggu penumpang lain. Kasihan, dalam hatiku. Di depan UI ini hanya ada satu penumpang, yaitu aku. Kalo mau jujur, rasanya mau turun saja dan ganti bis lain yang lebih cepat supaya segera sampai rumah. Terlepas dari kemacetan Sudirman dan Imam Bonjol, kesabaranku kembali di uji oleh mikrolet yang sedang ‘ngetem’.

Sepuluh menit berlalu, namun belum ada penumpang lain yang naik mikrolet ini. Aku beristighfar berulang kali dalam hati, mencoba untuk tidak kesal pada pak sopir. Kucoba menumbuhkan rasa iba pada pak sopir lebih besar. Mungkin, pria setengah baya itu belum dapat uang untuk menutupi setoran apalagi untuk di bawa pulang kepada anak isteri, dan hari telah senja. Azan magrib pasti akan berkumandang tak lama lagi. Itulah yang coba aku pikirkan. Astaghfirullahal ‘adziim….. Read the rest of this entry »

Mar
02

Oleh Cahaya Khairani

Di halaman depan rumah saya terdapat sebatang pohon belimbing. Pohon tersebut selalu berbuah tak kenal musim. Buahnya besar, kuning dan manis rasanya, terasa begitu segar dinikmati saat cuaca panas, sarinya yang melimpah mampu melenyapkan dahaga yang mencekik kerongkongan..

Bukan hanya buahnya, batang pohonnya yang kokoh dengan dedaunan yang rimbun dijadikan sebagai tempat berteduh bagi para pedagang yang letih menjajakan dagangannya. Angin yang meniup dedaunannya menghadirkan suasana sejuk bagi mereka yang beristirahat di bawahnya. Saya lantas berfikir, berapa banyak pahala yang mengalir bagi orang yang menanam pohon itu. Buah dari pohon itu seakan tak habis-habis untuk dinikmati oleh orang banyak, dari buah belimbing yang saya bagikan pada tetangga, menjadi jalan untuk membangun silaturahmi. Dari rimbunnya dedaunan, menjadi tempat para pedagang berhenti sejenak, dan tempat bermain yang asyik bagi anak-anak. Dari sebatang pohon di halaman depan rumah, menjadi ladang amal buat saya.

Namun belakangan, saya mulai mengeluh dengan daun dan buahnya yang berjatuhan mengotori halaman rumah. Saya harus beberapa kali dalam sehari menyapu halaman. Pagi-pagi halaman sudah kotor oleh daun dan buah busuk yang berjatuhan, belum lama setelah disapu, halaman sudah kotor lagi, begitu seterusnya. Read the rest of this entry »

Feb
19

Sepenggal kisah di semster 1

Jurusan teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Yupz.. sekarang, hampir tiap hari, tulisan itulah yang senantiasa menyambutku setiap aku mau kuliah, Bukan lagi tulisan Selamat Datang di SMAN 1 Teladan Yogyakarta, sekolahku yang lama.

Lain lubuk lain belalang lain ladang lain ikannya, peribahsa tersebut sekarang benar-benar kuresapi maknanya. 3 tahun di sma telah membiasakanku pada suatu lingkungan yang sangat menyenangkan. Yah… aku merasa Read the rest of this entry »